Tongkat Kuasa Tuhan

Tradisi dalam banyak budaya politik menjadikan tongkat itu sebagai simbol kekuasaan. Kita ingat, Musa memakai tongkat untuk menampilkan kuasa Allah yang bekerja dalam dirinya untuk memimpin bangsa dan umat Allah. Para Raja dan Presiden negara-negara juga memakai tongkat dengan makna simbolik kekuasaan yang mereka miliki. Di dalam Gereja, tongkat Uskup juga memiliki makna serupa.

Tongkat yang terbuat dari bahan kayu atau logam itu sangat melekat dengan kekuasaan atau otoritas orang yang memakainya. Bahkan rotan atau potongan kayu lurus yang dipakai Bapak atau Ibu di rumah cukup memberikan pemahaman, bahwa jika anak-anak melanggar aturan hukumannya ialah dipukul dengan kayu itu. Dalam semua pemandangan dengan tongkat ini, kita dapat mengerti lebih lanjut mengapa Tuhan selalu mengungkapkan di dalam kitab suci kuasa-Nya yang disimbolkan dengan tongkat.

Ia berkata dalam nubuat Mikha, bahwa Ia menggembalakan umat-Nya dengan tongkat-Nya. Yesus sang Gembala yang baik juga menjalankan tugas penggembalaan itu dengan memakai tongkat Imam Agung, yang hingga saat ini disimbolkan pada Paus dan para Uskup. Dengan tongkat itu, tugas-tugas sebagai Pemimpin dan Gembala memiliki legitimasi dan kekuatan untuk mendapatkan ketaatan atau kepatuhan dari orang-orang yang dipimpin.

Tongkat kuasa Tuhan, memiliki fungsi untuk suatu pemurnian dan pembebasan manusia dari kuasa kegelapan dan dosa. Setan dan penguasa kegelapan, ketika berhadapan dengan kuasa Allah yang dilambangkan dengan tongkat, ia jadi ketakutan. Hal itu terbukti dalam setiap tindakan Yesus yang selalu hadir melalui kata-kata dan hardikan, yang langsung membuat para Setan jadi takut dan memohon untuk tidak disiksa. Berkat tongkat kuasa Tuhan itu, segala dosa kita dapat dicampakkan ke dalam dasar laut, demikian kata Nabi Mikha.

Kita mesti memandang tongkat itu saat ditunjukkan kepada kita, apakah dalam posisi dipegang, dijadikan penopang pada saat berdiri, atau saat menunjukkan dan menegaskan sesuatu dalam suatu proses pengajaran. Yesus menunjuk dengan segala kuasa yang ada pada-Nya, ketika Ia mengajarkan, bahwa para murid dan Rasul sesungguhnya adalah Ibu-Nya, dan saudara-saudara-Nya. Penegasan itu berisi suatu ajaran yang penuh kewibawaan dan prinsip. Ajaran itu ialah, bahwa melaksanakan kehendak Allah merupakan tugas utama setiap pengikut Kristus. Tongkat kuasa Yesus itu sampai detik ini berada pada tangan Paus dan Uskup di tempat kita masing-masing. Kita harus mendengar dan mengikuti Bapa Suci dan Uskup kita.

“Ya, Tuhan, semoga kesetiaan dan ketaatan kami kepada Gereja senantiasa kuat dan bertahan, khususnya melalui ketaatan kami kepada Bapa Suci dan Uskup kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)