Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kesombongan adalah kejahatan yang lengkap, ia anti Tuhan”
(C.S. Lewis)
“Apa Akar Terdalam dari Semua Sikap dan Tindakan Kejahatan di Atas Bumi?”
Pertanyaan ini menyentuh inti dari teologi, moral, filsafat, dan psikologi manusia.
Jika dikupas lapisan demi lapisan: korupsi, penipuan, kekerasan, hingga ketidakpedulian, maka akan ditemukan akar terdalam dari semua kejahatan yang bukan sekadar ‘ketamakan’ atau ‘kebencian’, melainkan justru sesuatu yang lebih fundamental.
Secara Umum, Terdapat “Tiga Perspektif Utama” yang saling Melengkapi untuk Menemukan Jawabannya!
- 1. Perspektif Teologis / Spiritual: Keangkuhan (Pride /Hubris)
Dalam tradisi Kristen dan filsafat klasik, akar dosa yang paling utama adalah ‘kesombongan’ (Superbia).
- Mengapa demikian? Ya, karena kesombongan adalah sikap di mana manusia menempatkan dirinya sebagai pusat alam semesta, menggantikan posisi Tuhan.
- Ketika manusia merasa dirinya paling benar, berhak, dan tidak tunduk pada hukum moral atau kasih, maka yang terbuka lebar adalah datangnya semua jenis kejahatan lainnya:
- (1) Ia akan menipu, karena merasa dirinya yang paling pintar dari aturan.
- (2) Ia juga akan membunuh, karena merasa nyawa orang lain tidak berharga dibandingkan egonya.
- (3) Ia akan bersikap serakah, karena merasa dunia ini berutang padanya. Maka, C. S. Lewis pernah berujar, bahwa “Kesombongan itu adalah kejahatan yang lengkap, katena ia anti Tuhan.”
Inilah sebentuk pemberontakan jiwa terhadap keterbatasan diri sebagai makhluk.
- 2. Perspektif Filosofis/Eksistensialis: Ketakutan dan Kekosongan (Fear and Void).
Di balik topeng keangkuhan, sering kali tersembunyi ketakutan yang sangat mendalam.
- Takut Tidak Diakui: Banyak kejahatan justru lahir dari rasa insecure. Manusia mencuri pujian kekuasaan, atau harta, justru karena takut dianggap “tidak ada” atau “tidak cukup.”
- Kekosongan Makna (Nihilisme): Kala manusia telah kehilangan makna hidup, ia jadi hampa. Untuk merasakan ‘hidup’ manusia mungkin melakukan hal-hal ekstrem, menyakiti orang, atau menghancurkan tatanan hidup. Kejahatan pun jadi cara buruk untuk mengisi kekosongan batinnya.
- Hannah Arendt menyebut hal ini sebagai “ketidakmampuan untuk berpikir,” ketika manusia berhenti merefleksikan konsekuensi moral dari tindakannya, karena ia terbawa arus.
- 3. Perspektif Psikologis/Humanis: Kerusakan Empati (Lack of Empathy).
Adapun akar praktis dari setiap tindakan jahat adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia yang utuh.
- Hal ini disebut dehumanisasi. Sebelum membunuh, memperkosa, atau menipu, pelaku harus lebih dulu “mematikan” rasa kemanusiaan korbannya di dalam alam pikirannya.
- Korban pun diubah jadi sekadar objek, angka, atau alat belaka.
- Adapun akar dari kerusakan empati ini sering kali berasal dari ‘luka batin yang tidak disembuhkan.’ Karena orang yang disakiti cenderung akan menyakiti kembali (hurt people hurt people), menciptakan mata rantai kejahatan yang tak terputus.
Konklusi: Satu Akar, Tiga Wajah
Jika kita harus meringkasnya ke dalam sebuah kalimat filosofis spiritual, maka:
Akar terdalam dari kejahatan adalah “Pemujaan Diri Sendiri (Self- worship), yang lahir dari ketakutan akan kehilangan makna, yang berbuah pada kematian empati.”
Alias: “Kejahatan adalah jeritan ego yang terluka, yang mencoba mengisi kekosongan jiwanya dengan menghancurkan kedamaian orang lain.
Refleksi Penutup:
Mengetahui akar dari semua kejahatan ini, membantu kita bukan untuk menghakimi, melsinksn untuk berwaspada. Karena akar ini juga berada di dalam setiap hati manusia, termasuk hati saya sendiri.
- Lawan dari kesombongan adalah sikap kerendahan hati.
- Lawan dari ketakutan/kekosongan adalah iman dan rasa cukup.
- Lawan dari keringnya empati adalah kasih yang aktif.
Kediri, 12 Juni 2026

