“Kebahagiaan sejati dimulai, ketika kita tifak mengandalkan diri sendiri, tapi mengandalkan Tuhan. Sabda Bahagia membawa orang kepada sukacita yang tak dapat diberikan dunia.”
Allah yang Maha Rahim,
Yesus Putera-Mu naik ke atas bukit dan mulai mengajar para murid-Nya. Menarik sekali, Bapa, bahwa pelajaran pertama yang Ia berikan adalah tentang kebahagiaan. Sebab Engkau tahu, bahwa di dalam hati setiap manusia ada kerinduan yang sama: ingin hidup bahagia dan diberkati.
Jalan yang Yesus tunjukkan begitu berbeda dengan cara dunia berpikir.
Dunia berkata, bahwa bahagia berarti memiliki lebih banyak, dihormati, berkuasa, dan terhindar dari penderitaan. Tapi Yesus justru menyebut berbahagia itu adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, lemah lembut, murah hati, membawa damai, hati yang murni, dan bahkan yang menderita, karena kebenaran.
Bapa, ajarlah kami untuk percaya kepada Yesus. Jangan biarkan kami mengejar hal-hal yang hanya memuaskan sesaat, tapi tidak pernah sungguh mengenyangkan jiwa.
Seperti Nabi Elia, ajarlah kami bersandar pada penyelenggaraan-Mu. Ketika jalan di depan tidak jelas dan masa depan terasa tidak pasti, mampukan kami untuk tetap percaya, bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan anak-anak-Mu.
Sucikanlah hati kami, Tuhan. Bersihkan ‘kacamata rohani’ kami agar kami dapat melihat kehadiran-Mu dengan lebih jelas setiap hari.
Saat kami tergoda untuk menghakimi, ajarlah kami berbelas kasih. Saat kami tergoda untuk ikut menyebarkan gosip dan perpecahan, jadikanlah kami pembawa damai. Saat kami menghadapi kesulitan, ingatkan kami, bahwa pertolongan datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.
Yesus, bentuklah hati kami semakin serupa dengan hati-Mu. Semoga kami hidup menurut Sabda Bahagia, sehingga suatu hari nanti kami layak memandang wajah-Mu dalam kemuliaan Surga. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

