Pada 1994, saya hidup sebagai seorang Misionaris di salah satu Paroki di pedalaman Papua Selatan. Ketika itu kemarau panjang mengakibatkan sumber air mengalami kekeringan dan tanah jadi tandus, sehingga tidak memungkinkan untuk ditanami ubi jalar yang adalah makanan pokok di daerah itu. Untuk bisa bertahan hidup, umat memanfaatkan air kelapa sebagai pengganti air untuk pelepas dahaga dan mengonsumsi ikan sebagai pengganti ubi jalar dan sagu. Mereka mengalami kelaparan dan kehausan yang tidak hanya soal jasmani, tapi juga lapar dan haus secara rohani.
Kita diajak menimba kekuatan dari Yesus untuk menghilangkan lapar dan haus secara rohani, yakni dengan Tubuh dan Darah Kristus yang secara liturgis dirayakan hari ini.
Dalam Kitab Ulangan, kita diingatkan pada perjalanan bangsa Israel di padang gurun, di mana Allah menuntun dan membimbing mereka untuk berpegang pada perintah-Nya. Kisah perjalanan ini mengajarkan dan mengingatkan kita akan kasih setia Allah dan tidak lupa, bahwa segala yang kita miliki itu berasal dari-Nya.
Dalam perayaan Ekaristi, kita percaya, bahwa Roti yang dipecahkan dan Anggur yang kita minum itu adalah Tubuh dan Darah Kristus yang memberi kehidupan kekal bagi kita. Dengan menyambut Ekaristi, kita berpartisipasi dalam misteri keselamatan yang dilakukan oleh Kristus bagi kita.
Dalam Injil, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai ‘Roti Hidup’ yang turun dari Surga. Ia berkata, bahwa siapa saja yang makan dari Roti ini akan hidup selama-lamanya. Dengan memakan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya dalam Ekaristi, kita menyatu dengan Dia dan menerima kehidupan kekal. Tubuh dan Darah Kristus adalah sumber kekuatan dan kehidupan kita. Karena itu, kita harus menyambut-Nya dengan iman dan kerendahan hati.
“Tuhan, bantulah kami agar makin menghayati kehadiran-Mu dalam Ekaristi Kudus sebagai sumber kekuatan dan bekal rohani bagi hidup kami. Amin.”
Ziarah Batin

