Memeluk agama itu sebagai hak dan pilihan individu atau kelompok. Tapi sifat natural manusiawi yang berambisi, suka promosi diri, dan ingin posisi atau jabatan itu sering mempengaruhi keyakinan setiap orang.
Tuhan Yesus meminta kita tidak memiliki cara hidup beriman seperti itu. Ia justru menghadirkan hidup beriman yang berlawanan dengan ambisi, promosi, dan posisi. Para pemuka agama, cendekia, ahli Kitab Suci dan kaum Farisi terkenal dengan jenis agama ini.
Yesus mengingatkan kita semua agar tidak tergoda mengikuti atau tidak memelihara kecenderungan untuk:
- 1) Keinginan tinggi atau berambisi jadi penting dan diutamakan;
- 2) Selalu mau promosi atau tampil mencari perhatian untuk dikenal dan diakui yang intinya ialah penghormatan dan penghargaan dari orang lain;
- 3) Selalu berusaha menggunakan posisi atau kedudukan, bahkan dari sifatnya yang rohani itu untuk keuntungan pribadi.
Para pengikut Kristus sebaliknya harus melakukan pelayanan dalam kerendahan hati untuk kebaikan sesama, daripada berambisi jadi yang utama. Menampilkan atau promosi kebaikan orang lain dan kehidupan bersama melalui pekerjaan, pelayanan, dan solidaritas daripada promosi diri sendiri. Kesempatan memakai posisi, entah sipil atau keagamaan itu untuk pelayanan dan pembaktian diri secara tulus dan tanggung jawab, daripada mencari keuntungan sendiri.
Ketiga kecenderungan daging yang berakar pada kesombongan itu merupakan salah satu dari 7 dosa pokok manusia. Jika yang pokok ini dihilangkan maka dosa turunannya itu tidak akan berkembang.
Dua cara untuk menghilangkan kesombongan manusiawi:
- Pertama: Kita setiap saat senantiasa memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan muridnya Timotius untuk menyatakan pujian dan syukur itu melalui suatu sikap iman yang benar, yaitu bersabar dalam penderitaan dan melakukan tugas pelayanan serta pewartaan dalam sukacita.
- Kedua: Kerendahan hati jadi pilihan sikap hidup yang dikembangkan dan dipelihara. Yesus memberi contoh melalui penampilan janda miskin yang memberi derma. Kerendahan hati itu bukan berbentuk pasif dan tenang, tapi berbuat dan mempersembahkan suatu materi atau rohani. Meskipun sederhana, tapi berguna bagi sesama dan kepentingan bersama.
“Ya, Tuhan kuatkan dan berkatilah kami agar melalui pekerjaan dan pelayanan yang sederhana dan rutin, kami ingin melakukannya dalam semangat menghadirkan kebaikan bagi sesama. Semoga Roh-Mu selalu mendampingi kami untuk mewujudkannya. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

