Dua Engsel Pintu Gereja

Seorang Pastor Paroki mengunjungi umatnya yang tinggal jauh di pedalaman, dan jauh dari pusat Paroki. Di salah satu stasi ia menemukan pintu Gereja yang hampir copot dari tempatnya bergantung. Dua engsel pintu itu nyaris putus. Jika keduanya putus total, maka pintu Gereja tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Pastor berbicara dengan penanggung jawab stasi itu supaya segera memasang engsel baru dan pintu Gereja berfungsi kembali. Gereja tidak bisa dibiarkan terbuka, karena binatang liar dapat masuk dan membuat kerusakan di dalamnya. Tapi tidak ada toko di kampung untuk mendapatkan engsel baru. Jika membeli, orang harus pergi ke kota yang memakan waktu sekitar dua hari. Meski demikian, Pastor itu menemukan di dalam tasnya ada dua engsel yang sudah bekas pakai. Dua engsel itu kemudian dipasangkan ke pintu Gereja itu, meski keduanya tidak seragam dan tidak sepadan dengan pintu Gereja.
Jika kita memandang dan memahami Gereja secara rohani, yaitu umat Allah, kita dapat menggambarkan dua profil yang merupakan fondasi Gereja, yaitu Santo Petrus dan Paulus, dengan dua engsel pintu Gereja tadi. Sejak Gereja yang kudus ini berdiri, kedua Rasul ini berperan sangat penting untuk membuat pintu Gereja berfungsi dengan sesungguhnya. Tugas dari Yesus Kristus itu menjadikan mereka sebagai saksi-saksi iman yang unggul.
Keunggulan dan dedikasi iman yang amat tinggi itu telah dirintis oleh Petrus dan Paulus bagi kita. Petrus adalah figur kepala yang mempersatukan, menguatkan, dan mengakarkan iman kita kepada Kristus. Pengakuannya akan Yesus Kristus merupakan pegangan iman yang sangat mendasar bagi Gereja.
Paulus adalah figur Gereja yang misioner dan inklusif, yang intinya memberikan nilai universalitas Gereja. Ia bersaksi melakukan tugas misionernya itu sampai ke ujung bumi, sampai garis batas dunia.
Jasa mereka berdua yang sampai akhir hayatnya, meninggal sebagai Martir di Roma, meninggalkan kepada Gereja sepanjang masa. Dedikasi dan komitmen kepada Kristus sampai batas terakhir perjalanan panjang hidupnya. Kita juga mesti dapat mengikuti teladan kedua Rasul ulung ini. Dua jempol kita untuk Petrus dan Paulus, dan jempol juga buat kita semua yang menunjukkan tanda kebanggaan kita.
“Ya, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, pandanglah kami putra putri-Mu yang berusaha belajar dari teladan Santo Petrus dan Paulus tentang berharganya komitmen dan dedikasi kepada-Mu dan sesama kami. Semoga kami setia dalam iman sampai batas terakhir yang Engkau kehendaki dari kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)