Kekudusan sering terasa seperti milik para Santo dan Santa; terlalu tinggi dan jauh. Kita diingatkan, bahwa jadi kudus itu bukan soal kesempurnaan, melainkan soal kesetiaan. Allah memanggil kita untuk hidup kudus di tempat masing-masing, bahkan di tengah rutinitas harian yang sederhana: di rumah, kantor, jalan, dan dalam relasi kita sehari-hari. Kekudusan itu bukan hasil dari kekuatan kita sendiri, melainkan buah dari relasi yang akrab dengan Allah.
Petrus menasihati, “Hiduplah dengan penuh pengharapan akan kasih karunia.” Hidup kudus itu berarti membuka hati terhadap kasih karunia yang terus-menerus dicurahkan; atau hidup yang dilandasi harapan dan kepercayaan, bahwa Allah yang memanggil, juga menyertai dan memampukan.
Dalam Injil, Petrus berkata, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Sebuah pertanyaan yang tulus, dan mungkin juga pernah muncul dalam hati kita, “Tuhan, apakah semua ini berarti?” Ketika lelah, kecewa, atau merasa sendiri, kita ragu. Tapi Yesus menegaskan, bahwa tidak ada yang sia-sia. Setiap langkah setia, sekecil apa pun, Tuhan melihat dan hargai.
“Ya, Tuhan, Engkau memanggil kami untuk jadi kudus, bukan karena kami sempurna, melainkan karena mau setia. Mampukanlah kami untuk tetap tekun dan setia. Amin.”
Ziarah Batin

