Ada seorang remaja SMP bernama Thomas yang dikenal sangat nakal, baik di rumah atau sekolah. Ia juga sudah menerima berbagai jenis hukuman. Hampir semua orang menganggapnya jelek. Tapi hanya kedua orangtuanya yang masih memiliki harapan, bahwa kelak Thomas dapat berubah. Ibunya berpesan agar pergi dan pulang sekolah ia harus menyempatkan diri ke Gereja yang selalu dilewatinya itu untuk berdoa.
Pada suatu hari terjadi keributan di kelas dan sekali lagi Thomas yang dituduh sebagai pelaku utamanya, padahal faktanya tidak seperti itu. Ia sangat disudutkan. Semua menyalahkan dia. Ketika selesai sekolah ia masuk ke Gereja dan berdoa. Ia berseru kepada Tuhan: “Ya, Yesus, saya nakal dan saya sangat sedih dengan semua perbuatan saya. Tapi tidak semua kesalahan berasal dari saya. Hanya saya gampang sekali dituduh melakukan semua kesalahan dan kekacauan. Saya menyerahkan semua ini kepada-Mu sebagai pengadilku yang benar, karena di dunia ini tidak semua pengadilan itu benar.”
Pengalaman Thomas itu adalah juga pengalaman Yesus Kristus dan Santo Paulus dulu. Mereka tidak mendapat pembenaran dari dunia ini, maka mereka datang kepada Allah pemegang kebenaran mutlak untuk mengadukan perkara pembuktian kebenaran. Pembenaran dunia ini sungguh berlawanan dengan pembenaran Tuhan, karena perhitungan dan keputusan pengadilan di dunia ini sering dipengaruhi oleh nafsu duniawi dan kepentingan manusia. Singkatnya, jika mempertahankan pembenaran dari Tuhan risikonya ialah kita pasti bertahan untuk menanggung penderitaan di dunia ini.
Ada juga jenis pengadilan lain yang dialami oleh Santo Petrus, Rasul Yesus yang pertama. Yesus mengadili dia secara khusus. Kalau Yesus sendiri yang mengadili, maka akan langsung diketahui orang itu benar atau salah. Petrus diinterogasi soal ketulusan, iman dan komitmennya untuk mengikuti Kristus. Ia harus menghadapi pengadilan itu agar komitmennya dibuktikan dan tugas penting yang diambilnya.
Setiap pengadilan itu harus taat pada syarat fundamentalnya, yaitu objektivitas. Nurani banyak orang dan publik yang membentuk objektivitas itu. Sedangkan suara satu-dua orang itu sangat subjektif dan tidak bisa jadi kebenaran. Iman kita mengajarkan, bahwa kehendak Tuhan didapatkan melalui pendapat bersama dalam Gereja yang difasilitasi oleh para pemimpinnya. Di sinilah kita mendapatkan pembenaran atas penghayatan iman kita. Misalnya, Anda mendapatkan absolusi dalam pengakuan dosa yang diberikan oleh Gereja melalui seorang Bapak pengakuan, itu merupakan pembenaran bagi diri Anda. Tuhan membenarkan kita di dunia ini melalui sarana dan tindakan Gereja.
“Ya, Allah yang Maha Baik, tambahkanlah keberanian dan kekuatan agar kami dapat menghadapi aneka macam kesulitan dan pengaruh jahat di dalam dunia ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

