Seorang kakak (bisa: keluarga, biara, komunitas, atau lingkungan) pernah berkata kepada Adiknya:
“Kalau kamu marah, berbicaralah, walau dengan nada kesal. Jika kamu mendiamkan dan menganggapku tidak ada, itu jauh lebih menyakitkan.”
Kata-kata ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran. Bahwa kemarahan, seburuk apa pun itu, masih memiliki harapan. Saat seseorang marah dan berbicara, ia masih menganggap orang di depannya ‘ada’ dan penting untuk diajak bicara.
Ketika kita mendiamkan dan mengacuhkan seseorang berarti kita sedang melakukan penolakan emosional yang kejam. Bagi jiwa manusia, dianggap ‘tidak ada’ oleh orang yang disayangi itu adalah salah satu luka paling dalam.
Konflik dalam hubungan itu adalah hal wajar. Kecewa dan marah adalah sifat manusiawi. Tapi mari kita belajar untuk tidak menghukum orang lain dengan keheningan yang menyiksa.
Sejatinya, “menjaga perasaan orang lain adalah bentuk tertinggi dari menghargai diri kita sendiri.”
Berkah Dalem.
Jlitheng

