Dunia kita mudah terpecah oleh perbedaan, entah itu opini, politik, budaya, suku, bahkan hal-hal yang sebenarnya sepele. Kita hidup di tengah masyarakat yang cepat menghakimi dan lambat memahami. Padahal, bangsa kita dibangun di atas semangat Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda, tapi tetap satu. Sayangnya, semboyan ini sering jadi slogan belaka, tanpa perwujudan nyata. Dalam konteks ini, Injil jadi sangat relevan.
Yesus berdoa kepada Bapa, dan yang paling menyentuh adalah, bahwa Ia berdoa bukan hanya untuk para murid-Nya saat itu, melainkan juga untuk mereka yang percaya kepada Dia melalui pemberitaan para murid-Nya. Itu berarti, Yesus berdoa untuk kita. Apa yang Dia doakan?
Bukan kesuksesan dan kenyamanan, melainkan kesatuan. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Kesatuan itu bukan berarti keseragaman. Yesus tidak meminta agar semua murid berpikir dan bertindak sama, tapi agar mereka satu dalam kasih, pengakuan akan kebenaran, dan dalam misi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Ini adalah panggilan bagi Gereja saat ini; panggilan untuk jadi saksi kesatuan di tengah dunia yang terpecah, untuk jadi tanda kasih Allah yang menyatukan.
“Ya, Tuhan, satukanlah kami dalam kasih-Mu agar dunia percaya, bahwa Engkau telah mengutus kami. Amin.”
Ziarah Batin

