“Hidup dalam kesatuan Ilahi berarti membawa sukacita Surga di dalam hati dan keberanian menghadapi kebencian dunia.”
Allah yang Maha Rahim, di penghujung Masa Paskah ini, kami diajak merenungkan salah satu bagian Injil Yohanes yang paling luar biasa: Doa Imam Agung Yesus pada malam sebelum sengsara-Nya. Doa ini mengandung benih seluruh spiritualitas Kristiani, bagaikan Katekismus hidup yang terangkum hanya dalam satu halaman!
Yesus berdoa: “Ya, Bapa yang Kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita.” Sungguh sangat menggetarkan hati, karena kami mendengar Putra berbicara langsung kepada-Mu, Bapa! Kami dibawa masuk ke dalam kehidupan Tritunggal: Putra memandang kepada Bapa, Bapa memandang kepada Putra, dan mereka saling mengasihi. Roh Kudus adalah kasih timbal balik yang mengikat keduanya. Inilah ‘communio divina’, kesatuan Ilahi.
Seluruh Kitab Suci bertujuan untuk menarik umat manusia masuk ke dalam kesatuan ini. Gereja satu, karena Pendiri-Nya adalah Satu. Kami tidak bisa mengabaikan kerinduan Allah yang penuh Kerahiman: agar kita semua menjadi satu!
Bapa, inilah kesatuan Ilahi yang Agung dan menakjubkan! Seluruh narasi Kitab Suci membawa kami pada persekutuan suci ini. Gereja satu, karena pendirinya adalah Satu. Tidak seorang pun boleh mengabaikan keinginan Allah Sang Maha Rahim agar kami bersatu.
Sungguh luar biasa Engkau, ya Bapa, karena Imam Agung kami: Yesus Kristus, bukan hanya berdoa untuk kami, melainkan juga berdoa di dalam kami, dan pada saat yang sama adalah Allah yang mendengarkan doa kami (KGK 2749).
Putra-Mu dipenuhi sukacita, karena akan kembali kepada-Mu. Ia rindu agar sukacita itu melimpah ke dalam hati para murid-Nya. Sukacita Ilahi itu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan.
Dari bibir Putra-Mu, kami juga mendengar kebenaran yang menyeimbangkan: dunia membenci murid-murid-Nya. Kami tidak bisa berharap semua orang akan menyukai kami. Bahkan, jika dunia terlalu mudah menerima, kami patut bertanya: Apakah kami masih berjalan bersama Yesus? Apakah kami masih memancarkan cahaya Injil-Mu?
Yesus tidak berdoa agar kami diambil dari dunia. Sebaliknya, Ia memohon agar kami dilindungi dari yang jahat. Ini bukan doa untuk melarikan diri dari dunia, tapi doa untuk misi. Kami diutus ke dalam dunia agar, melalui kami, kejahatan dapat digantikan dengan kebaikan. Inilah misi yang Yesus percayakan kepada Gereja.
Bagaimana misi ini bisa dijalankan? Yesus berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Kekudusan hanya tercapai, bila kami hidup dalam kehidupan Ilahi, dan itu terjadi dalam kebenaran. Tantangannya, zaman sekarang kebenaran telah dicampuradukkan dengan relativisme: kebenaranku vs kebenaranmu. Banyak orang menghindari Kebenaran Sejati, sibuk mempertahankan “kebenarannya sendiri.” Tapi relativisme tidak akan pernah menguduskan manusia. Bila kami tidak dikuduskan, kami pun kehilangan daya untuk mentransformasi dunia.
Bapa, Putra-Mu adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Dikuduskan dalam kebenaran berarti kami dibenamkan ke dalam Pribadi dan kuasa Yesus sendiri. Kami mohon, ya, Tuhan, benamkanlah kami dalam Kebenaran dan Kerahiman-Mu, agar dengan kelembutan dan keberanian-Mu, kami mampu menjalankan misi transformasi dunia ini.
Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

