“Bahaya jadi orang baik yang hanya memikirkan diri sendiri.”
Saat Yesus terangkat ke Surga, para murid sempat berdiri terpaku dan terus menatap ke langit. Malaikat lalu menegur mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (Kisah Para Rasul 1: 11).
Teguran Malaikat itu adalah kritik langsung terhadap “kesalehan yang egois.” Para murid tidak boleh hanya terpukau pada kenyamanan spiritual (menatap langit/Surga), tapi harus segera kembali ke bumi, masuk ke tengah masyarakat, dan jadi saksi yang memperjuangkan kebenaran.
Kenaikan Yesus bukan tanda bagi umat-Nya untuk jadi pasif, melainkan sebuah mandat utusan untuk bergerak secara agresif melawan kegelapan dunia.
Kebaikan yang pasif itu tidak akan pernah mampu membendung keburukan yang agresif. Pada akhirnya, integritas seseorang itu tidak hanya diukur dari kejahatan yang berhasil dihindari, tapi dari kebenaran yang berani diperjuangkannya. Menolak peduli berarti bersiap untuk dipimpin oleh ketidakpedulian itu sendiri.
“Hukuman bagi orang baik yang menolak terlibat dalam politik adalah diperintah oleh orang-orang yang lebih buruk dari mereka.”
Berkah Dalem.
Jlitheng

