Sukacita sejati itu bukan berasal dari hidup yang bebas masalah, melainkan dari keyakinan, bahwa Allah hadir di tengah segala kesulitan.
Santo Paulus merasakan sendiri, ketika berada di Korintus, tempat yang dikenal, karena kehidupan moral yang rusak dan sikap yang menolak Injil. Ia mulai merasa lelah, mungkin juga takut. Dalam keheningan malam, Tuhan menampakkan diri dan berkata, “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam, sebab Aku menyertai engkau.”
Kata-kata itu menguatkan hatinya. Dengan penghiburan Ilahi, Paulus tinggal di sana selama satu setengah tahun, berani dan setia mewartakan Sabda Tuhan, meskipun tantangan itu tidak kunjung reda.
Dalam Injil, Yesus menunjukkan, bagaimana Ia mempersiapkan para murid itu untuk menghadapi penderitaan yang akan datang, terutama kematian-Nya. Ia berkata, “Kamu akan menangis dan meratap, tapi dunia akan bergembira. Kamu akan berdukacita, tapi dukacitamu itu akan berubah jadi sukacita.” Karena akan ada masa-masa sulit, air mata, dan kehilangan. Tapi semua itu bukanlah akhir. Seperti seorang Ibu yang melahirkan, rasa sakit itu akan berganti jadi sukacita yang mendalam. Yesus menambahkan janji nan indah, ”Hati kamu akan bergembira, dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas sukacitamu itu.”
Janji itu meneguhkan kita, bahwa di tengah pergumulan, sukacita dalam Kristus tetap tidak tergoyahkan dan tidak bisa dicuri oleh dunia.
“Ya, Tuhan, kuatkan kami untuk tetap setia dan bersukacita di jalan-Mu. Kami yakin, bahwa Engkau selalu dan senantiasa menyertai kami. Amin.”
Ziarah Batin

