Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hukum Balasan: Apa yang Ditabur, itu yang Dituai.”
(Hukum Kehidupan)
Sungguh, dinamika hidup manusia itu ibaratnya selakon babak sandiwara. Pemeran sentral akan menampilkan kisah kehidupan dari awal hingga ke akhir. Biasanya akan berujung pada tiga kemungkinan sikon, yakni ‘happy ending’, ‘sad ending’, atau juga gado-gado alias campuran.
Mari ikuti dengan saksama, kisah paling unik, manis, dan sarat makna kemanusiaan berikut ini!
Kisah Manis Kehidupan
Saat itu, cuaca sungguh tidak bersahabat, hujan rintik-rintik, alam terasa sangat dingin, dan hampir tidak ada manusia yang lewat di jalan.
Sementara itu, seorang remaja pria nan malang, namanya Rafael, sedang mendorong gerobak es dengan perasaan harap-harap cemas. Ia mengigil kedinginan dan kelaparan.
Dengan ekstra keberanian, ia mengetuk pintu sebuah rumah. Tampaklah seorang gadis belia 17 tahun, Clara namanya.
“Bisakah sebatang es jualanku ini dibeli, aku membutuhkan uang untuk membeli minuman hangat, Kak.”
Clara pun meneruskan permohonan Rafael kepada kedua orangtuanya. Tapi ada sebuah jawaban yang luar biasa ke luar dari mulut sang Ayah, Anthonio.
“Kita tidak membeli apa-apa, tapi kita perlu buat sesuatu yang lebih baik.”
Rafael masuk ke dalam rumah itu dan segera tubuh dinginnya dililiti selembar selimut kering dan disajikan segelas susu panas pula.
Lima belas tahun berselang, mereka tidak pernah bersua lagi. Di saat itu, Clara telah mencapai usia 30 tahun, saat Ayahnya divonis untuk dioperasi.
Saat hendak dioperasi, Ayah dan anaknya itu bertukar pikiran, apakah perlu menjual rumah untuk biaya operasi? Tapi sang Ayah bersikukuh, agar dirinya tidak perlu dioperasi.
Dokter tetap meyakinkan Ayah gadis itu agar tetap dioperasi. Akhirnya, Ayah itu dioperasi dengan aman dan selamat.
“Bagaimana Dokter, kami harus membayar biaya operasi ini?”
“Oh ya, mengenai rekening tagihan, besok akan dikirimkan ke alamatmu, Clara,” kata Dokter Rafael.
Keesokan hari, di saat Clara membuka amplop dan dibacanya seuntai kalimat, “Clara, untuk biaya operasi Ayahmu, sudah dibayar sejak 15 tahun yang lalu, dengan seutas selimut kering dan segelas susu panas.”
(Dari Berbagai Sumber)
Sebuah Peri Bahasa
“Imbalan Anda dalam Hidup akan Berbanding Lurus dengan Pelayanan Anda kepada Orang Lian”
(Zig Ziglar)
Kebenaran sejati dari hukum kehidupan yang bernama, ‘hukum balasan,’ ternyata bukan sekadar sebuah gertakan atau isapan jempol. Bahwa, “jika sebuah awal yang baik, maka akhirnya pun akan baik pula.”
Bukankah semua perbuatan dan tindakan yang baik akan berdampak ‘menyenangkan, membahagiakan, dan tidak mudah dilupakan?’
Maka, kebaikan itu akan terus dikenang dan tersimpan rapi di dalam ingatan manusia.
Refleksi
“Kebaikan itu tidak pernah sia-sia. Seandainya tidak ada hasil bagi yang menerimanya, paling tidak itu akan menguntungkan bagi yang memberikannya”
(S. H. Simmons)
“Amor Gignit Amorem”
“Cinta pun Melahirkan Cinta”
(Adagium Latin)
Kediri, 13 Mei 2026

