“Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis 17: 23).
Rahmat iman yang begitu luhur dan mulia tampak nyata dalam diri Santo Paulus. Dengan keberanian yang besar, ia berpidato di hadapan penduduk kota Athena, bahkan di tengah para penganut aliran filsafat terkemuka pada masa itu, seperti Epikuros dan Stoa. Paulus menyadari, bahwa tugas dan tujuannya adalah memperkenalkan Allah yang belum mereka kenal, agar mereka dapat mengenal-Nya dengan benar.
Ia menegaskan, bahwa Allah tidak dapat disamakan dengan dewa-dewa atau patung-patung buatan manusia. Melalui pewartaannya, Paulus mengajak banyak orang untuk meninggalkan pemahaman yang keliru dan beralih kepada iman yang sejati.
Sebagai anak-anak Allah, kita pun dipanggil untuk membawa sesama kepada-Nya. Kita diajak merangkul semua orang, bukan hanya mereka yang baik kepada kita, melainkan juga mereka yang kehilangan iman atau masih mengeraskan hati.
Tugas kita bukan semata-mata mengejar kebutuhan dan kesenangan pribadi, tapi jadi saksi Kristus yang mampu memancarkan kemuliaan Allah sehingga banyak orang yang mengakui, bahwa Kristus Yesus adalah Tuhan yang telah wafat dan bangkit untuk semua umat manusia.
Sr. M. Francella, P. Karm
Rabu, 13 Mei 2026
Kis 17: 15.22 -18: 1 Mzm 148: 1-2.11-14; Yoh 16: 12-15
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

