Pergi ke tempat yang disukai itu mudah. Bagaimana, jika Tuhan memanggil kita untuk pergi ke tempat yang tidak dikehendaki?
Filipus memberikan teladan yang luar biasa. Ia tidak menunggu untuk diutus ke tempat yang ideal. Ia diutus ke Samaria, wilayah yang sering dianggap ‘tidak layak’ oleh orang Yahudi. Tapi justru di sanalah kuasa Injil itu nyata. Penyembuhan terjadi, kuasa kegelapan dikalahkan, dan sukacita besar melingkupi kota. Bukan karena kehebatan Filipus, melainkan karena ia membawa Kristus. Sebab di mana Kristus hadir, di situ dukacita berubah jadi sukacita.
Rasul Petrus mengingatkan, “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada pada kita, tapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang baik, supaya mereka yang memfitnah kita, karena perilaku kita yang baik di dalam Kristus. Mereka jadi malu, karena fitnah itu.”
Di tengah dunia yang skeptis, kita dipanggil bukan untuk menyerang, melainkan untuk bersaksi dalam kasih dan kelembutan. Kita berbicara tentang kebenaran tanpa harus membentak dan kita mewartakan iman tanpa harus menghina.
Yesus memahami sepenuhnya kondisi hati para murid dan hati kita. Ia tahu, bahwa kita lemah, mudah takut, dan sering merasa sendiri. Karena itu, dalam Injil, Ia menjanjikan Penolong, yaitu Roh Kudus. Dialah Penghibur yang tinggal dalam kita, memberi kita keberanian saat hati ini gentar, keteguhan saat dunia mengguncang. Dengan Roh Kudus, kita tidak hanya bertahan, tapi dimampukan untuk bersaksi dan mengasihi dengan cara Kristus sendiri.
Di tengah dunia yang haus dan lelah, janganlah kita pernah mundur. Kita dipanggil untuk hadir sebagai pembawa harapan. Bukan karena kita sempurna, melainkan karena Kristus yang hidup dalam kita adalah terang yang tidak bisa dipadamkan. Melalui kita dunia akan tahu, bahwa Tuhan masih mencintai dunia ini.
“Ya, Tuhan, jadikan kami pembawa damai, sukacita, dan terang-Mu di dunia yang haus akan kasih dan kebenaran. Amin.”
Ziarah Batin

