“Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada Tuannya” (Yoh 15: 20a).
Dalam Injil, kita diingatkan, bahwa konsekuensi mengikuti Yesus itu sangat jelas, seorang hamba itu tidak lebih tinggi daripada Tuannya. Jika Yesus mengalami penolakan dan penganiayaan, maka para murid-Nya akan mengalami hal yang serupa. Sebagaimana Yesus, Guru dan Tuhan kita menapaki jalan penderitaan hingga wafat di kayu salib, demikian juga kita sebagai pengikut-Nya, tidak dapat berharap menjalani hidup tanpa salib dan tantangan. Tapi secara manusiawi, kita sering kali ingin mengikuti Tuhan sambil tetap mempertahakan zona nyaman, tanpa salib dan masalah. Dalam Injil, kita ditegur dan diingatkan, bahwa mengikuti Yesus itu dibutuhkan sikap kerendahan hati dan kesetiaan.
Dalam setiap situasi, kita dipanggil untuk tetap setia, bahkan ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan. Penghiburan dan upah sejati bagi kita yang setia mengikuti Yesus itu bukan berasal dari dunia, melainkan dari Tuhan sendiri. Satu hal yang patut diimani adalah Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Ia senantiasa menyertai, menguatkan, dan meneguhkan langkah kita dalam setiap perjuangan hidup.
Titien
Sabtu, 09 Mei 2026
Kis 16: 1-10 Mzm 100: 1-3.5 Yoh 15: 18-21
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

