‘Tilik sedulur’ adalah bahasa ketulusan yang paling jujur. Tanpa perlu banyak kata, paseduluran hadir untuk mendekap jiwa; memberi ruang bagi setiap hati untuk menyadari, bahwa dalam diam pun, hangatnya persaudaraan selalu ada dan dirindukan.
Dalam Budaya Jawa, ‘sedulur’ itu bermakna jauh lebih dalam dari sekadar teman; ia adalah ikatan batin yang tak terputus.
Bagi saya, ‘tilik sedulur’ adalah cara mencintai tanpa kata. Sebuah laku untuk membuka mata hati, bahwa setiap insan merindukan pelukan paseduluran yang murni: sebuah tempat di mana semangat kembali tumbuh tanpa perlu menghitung siapa yang memberi lebih dulu.
Berkah Dalem.
Jlitheng

