Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Keragu-raguan dan rasa takut seseorang merupakan musuh yang paling buruk.”
(William Wrigley, Jr.)
“Our Environment is Our Mind”
Seorang pria yang menderita kekecewaan dan putus asa berat dengan dirinya sendiri, menelepon Norman Vincent, penulis buku “The Power of Positive Thinking.”
Ia berkata, bahwa dirinya sudah berada dalam kegelapan, “Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, aku telah kehilangan hidupku ini,” katanya.
“Mari, kita pelajari keadaan Anda,” kata Norman Vincent sambil mengundangnya ke kantornya.
Pada sehelai kertas putih, Norman Vincent pun menarik sebuah garis lurus untuk memisahkan antara, kolom kiri dan kanan. Menyarankan agar di kolom bagian kiri, pria putus asa itu menuliskan semua hal yang telah hilang dalam hidupnya, dan di kolom sebelah kanan, untuk semua hal yang masih jadi miliknya.
“Saya tidak perlu lagi menulis apa pun di kolom sebelah kanan, karena saya sudah tak punya apa-apa lagi.”
“Lalu kapan kau bercerai dengan istrimu?” tanya Norman.
“Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dengan istriku. Aku sangat mencintainya!”
“Jika demikian, bagus sekali,” sahut Norman.
“Nak, sekarang, kapan putramu itu masuk penjara?”
“Anda ini konyol. Tak ada putraku yang masuk penjara.”
Setelah beberapa pertanyaan dengan cara dan nada yang serupa, akhirnya pria putus asa itu mulai menangkap maksud Norman dan ia segera tertawa pada dirinya sendiri.
“Sungguh menggelikan. Karena pada saat itu juga, segala sesuatu ternyata berubah total, ketika aku mulai mengubah cara berpikirku.”
(Inspirasi tanpa Menggugat).
“Kebijaksanaan Hidup Mengajarkan Umat Manusia, agar Manusia Jangan Membelenggu Dirinya lewat Cara Berpikirnya!”
“Lepaskanlah dulu Kacamata Hitammu, agar Kamu pun bisa Memandang Realitas Dunia ini!”
Mengapa Manusia cenderung untuk Negative Thinking?
- 1. Negativity Bias: Ini warisan para leluhur kita. 200.000 tahun silam, Kakek kita yang overthinking justru selamat dalam hidup mereka. Karena yang mereka pikirkan hanya ‘tiupan angin yang menggoyangkan semak.’ Otak manusia memang diwarisi ‘software’ “Curiga dulu, baru rasa aman.”
- 2. Otak Manusia itu Velcro untuk hal Buruk, tapi telfon untuk hal Baik. Psikolog Rick Hanson berujar, “Satu hinaan, meluncur tempel di otak seperti Velcro. Sepuluh pujian, meluncur seperti telfon.”
Dibutuhkan Lima Hal Positif untuk Menetralkan Satu hal Negatif. Jadi, sangat wajar, jika dunia ini rasanya “lebih banyak hitamnya.”
- 3. Luka yang Tak Pernah Kering: Orang yang bertumbuh dengan kritikan ditolak, atau gagal berulang, otaknya dilatih: “Awas, dunia ini berbahaya.” Akhirnya ia jadi kacamata hitam permanen. Semua hal akan dilihat sebagai ancaman dan bukan sebagai peluang.
Jadi, negative thinking itu bukan salahmu, tapi itu default pabrik. Tapi kabar baiknya, bahwa default itu bisa di-setting-ulang.
Filosofi Manusia yang serba Murung dan Minor
Hal inilah yang dinamakan sebagai “Paham Nihilisme atau Absurditas” di dalam filsafat.
Terdapat Tiga Tingkatan!
- Tingkat Premanisme: Isi kepala: dunia ini keras, aku pun akan gagal. Ujungnya: aku masih mau mencoba, tapi aku takut.
- Tingkat Nihilisme: Isi kepala: semua akan sia-sia dan tidak bermakna lagi. Ujungnya: sudah mati rasa, sudak tak mau mencoba lagi.
- Tingkat Depresi: Akulah masalahnya. Ujungnya: Ini berbahaya. Maka, pikiran pun jadi musuh.
Refleksi
Filsuf Kierkegaard mengatakan, “Putus asa itu penyakit menuju kematian.”
Penyebabnya? Karena, manusia itu telah lupa akan dua hal:
- Bahwa Dia bukan Tuhan: Dia berpikir, bahwa dirinya harus bisa mengendalikan semua. Akhirnya: semuanya hancur.
- Dia melupakan kehadiran Tuhan: Dia berpikir, bahwa dia selamanya akan berada di dalam kegelapan.
Orang yang selalu memandang, bahwa dunia ini serba gelap, sebenarnya dia sedang berteriak, “Aku lelah jadi kuat sendirian.”
Kediri, 30 April 2026

