“Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10: 11).
Kita sering kali mendengar ungkapan, “Gembala berbau domba.” Ungkapan ini bermakna, bahwa seorang Gembala tidak hanya melihat domba-dombanya dari kejauhan, tapi hadir di tengah-tengah mereka. Dengan begitu, Gembala itu tahu, ketika ada domba yang lapar, haus, sakit, atau bahkan hilang. Tapi, apakah hanya dengan cara itu seorang Gembala dikatakan baik? Tidak. Gembala yang baik juga rela memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Dialah Yesus.
Yesus mengenal kita, domba-domba-Nya, lebih dari kita mengenal diri kita sendiri (bdk. Yoh 10: 14), sehingga Ia tahu yang jadi kebutuhan kita. Ketika kita berdosa, Ia hadir untuk memulihkan kita. Bahkan ketika kita tersesat, Ia mencari dan menemukan kita, sebab jiwa kita sangat berharga di hadapan-Nya.
Peristiwa Salib jadi bukti, bahwa Dialah Gembala yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Maka, tidakkah kita juga berusaha jadi domba yang baik? Domba yang mau menyerahkan diri kepada Tuhan dan melayani sesama?
Sr. M. Ellen, P. Karm
Senin, 27 April 2026
Kis 11: 1-18 Mzm 42: 2-3; 43:3-4 Yoh 10: 11-18
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

