1.
Tanya Galau Nestapa Abadi
Untuk makan saja kami harus berjuang bermandi keringat
Bagaimana dengan jari gemetaran bisa melawan senjata pasrah terlatih?
Dalam gubuk kampung sahaja
hanya untuk bertahan hidup hari ini
Bagaimana bersuara melawan deru alat berat dengan tenaga dasyat
Meski seluruh daging kami ditumpuk jadi tembok
pasti tak berarti di depan buldozer dan senjata canggih
Meski air mata jadi kolam dan darah kami jadi sungai
Pasti tak berdaya melawan pemilik kuasa dan pebisnis kaya
Lalu…
Apakah arti merdeka dan hak asasi manusia
Di manakah keadilan dan saktinya doa
Ke manakah kami berharap mendapat jawaban lara nestapa
Apakah nasib kami harus lara nestapa dan hilang nyawa karena terlahir di tanah yang kaya sumber daya alamnya
Di tanah yang kaya ini kami terlahir
apakah orangtua leluhur salah dan buta
Di tumpah darah ini kami galau lara merana
apakah terlahir untuk tumbal kejahatan sesama
Jawablah kami wahai semesta
Di manakah Sang Ilahi Maha Kuasa
2.
Perlombaan Kebenaran
Terus viral di sosial media
ada yang berorasi untuk membela nasib kami
Ada yang berpidato berbelas kasih kepada korban
Ada yang berseteru membela kepentingannya
Ada yang memberi klarifikasi sesuai jabatan
Tetapi…
Mereka yang mati tidak hidup kembali
Korban yang luka tidak lekas sembuh
Kami yang ketakutan tak segera sirna
Sandiwara terus terjadi dan bahkan menjadi-jadi
Kami galau dan bingung merana
Tak tahu manakah suara kebenaran tulus
Tak paham siapakah yang sungguh memberi solidaritas
Tak mampu membela diri dan anak cucu
menghadapi sebuah lara nestapa yang ganas menerjang
Entah sampai kapan menanti
Raja Adil
Entah seperti apa nasib hidup kami di tanah lahir ini

