1.
Anomali Keadilan
Hutan belantara dan kadang sakral
kini gundul dan berlobang merana
Isinya sudah terbang melayang
dengan kata pembangunan dan kesejahteraan
Rakyat pewarisnya merana dan meregang nyawa
Di manakah hukum alam dan adat budaya
Di gedung pengadilan yang megah
Dihiasi sumpah demi nama Sang Pencipta
“Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
Jemari rakyat jelata mengemis fakta kebenaran
Hukum tumpul ke tas dan tajam ke bawah
Entah sandiwara sampai kapan
Di tempat ibadah doa didaraskan
memohon Kuasa Sang Maha Adil
Namun…
kejahatan hukum beranak pinak
Di tempat adat budaya ritual sakral terus dilakukan
Namun…
para sakti dan leluhur tak mampu hentikan pejabat korup dan pebisnis tamak
Nasib lara nestapa rakyat jelata
seperti jadi tumbal di tanah leluhurnya
Keadilan sirna dan hanya utopia
Anomali keadilan jadi lagu berseri
Syair kata dan angka bergemuruh
viral di aneka media sosial
Ada jarak gulita antara kata dan fakta
Nasib rakyat jelata galau tak berdaya
Terus merana dan kehilangan nyawa di kampung halamannya
Merana dan mati karena kekayaan sumber daya alamnya
2.
Di mana Jawaban Doa
Ada tanya dan doa di tengah kota
terus membara lalu padam merana
terus menyala lalu hilang sirna
Sejenak disiram kata dan angka
entah oleh apa dan siapa
Ritual sakral hampa tak bersuara
Lembaga agama juga tak bertenaga
Ada air mata dan ratapan
di padang dan hutan rimba
karena ditindas dan tergusur
Ada luka darah mengalir
bahkan nyawa terus melayang
di dusun udik kampung pelosok
Namun
sekilas hilang tertiup angin zaman
dalam tanya hampa seperti tak berdaya

