Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apabila seseorang tidak dapat melihat kesalahan dalam dirinya, maka ia akan terus melihat kesalahan dalam diri orang lain.”
(Kathleen Norris)
Tantangan, karena suatu Perbedaan
Bertolak dari Dua Buah Kasus
Kasus Pertama (1)
Saya sempat menyaksikan suatu “perdebatan sangat keras” antar orang, dikarenakan mereka melihat adanya perbedaan dan keunikan di antara mereka.
Kasus Kedua (2)
Hari itu, di dalam kereta api ada seorang Ayah bersama Pemuda (24), yang adalah putranya. Pemuda itu matanya selalu memandang ke luar jendela kereta api, lalu berkata kepada Ayahnya.
“Ayah, lihat, pohon-pohon itu sedang berlari.”
Sepasang Anak muda yang duduk berdekatan dengan mereka sedari tadi selalu menatap aneh kepada Pemuda itu. Mereka merasa aneh, karena Pemuda itu tampak bersikap seperti anak kecil.
“Ayah, lihat, awan-awan itu sepertinya sedang mengikuti kita!”
Kedua pasangan muda itu, tampak tak sabar lagi, lalu berkata kepada Ayah dari si Pemuda aneh itu.
“Mengapa, Anda tidak membawa putra Anda ini kepada seorang dokter atau psikiater?”
Ayah itu tampak tersenyum, lalu berkata, “Sudah saya bawa, sebenarnya kami berdua baru saja pulang dari rumah sakit. Anak saya ini, sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatan hari ini.”
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Hal yang Paling Esensial dari Kasus ini
Hal yang paling esensial ialah, bahwa otak kita manusia itu selalu membenci pada suatu ketidakpastian. (Cognitive dissonance dan threat to worldview). Mengapa justru demikian?
- Otak manusia suka pada pola dan prediksi sejak kecil, kita diajari cara yang benar untuk berkata dan bertindak oleh keluarga, budaya, dan agama (itulah peta navigasi yang berasa di kepala kita).
- Keanehan itu sama dengan peta yang dirusak: saat orang lain mulai bertindak di luar peta itu, otak kita pun membaca: “Bah! Ada yang salah dengan dunia ini” (memicu rasa terancam, walaupun bukan ancaman fisik).
- Debat keras, sama saja dengan mekanisme bela diri: sikap marah dan mendebat adalah cara primitif otak manusia demi mengendalikan keteraturan itu. Apa tujuannya? Ia tidak bermaksud untuk mencari kebenaran, tapi demi mengembalikan rasa aman itu.
Jadi, hal yang sedang diperjuangkan di sini, sebetulnya, bukan soal logika, tapi rasa aman secara psikologis.
Aspek-aspek Apa saja yang Melatari Sikap Penolakan itu
Sesungguhnya terdapat Empat (4) Buah Aspek yang Melatarinya:
- 1. Egosentrisme: Manusia itu cenderung untuk menganggap, bahwa caranya itulah yang paling normal (padahal di sisi lain, hal itu sangat relatif). Hal ini mengindikasikan, bahwa orang ini
pun belum dewasa. - 2. Ketakutan yang Tersembunyi: secara psikologis disebut ‘projection’ yang membenci sikap lebay orang lain.
- 3. Kurang Narasi Keberagaman: pribadi yang kurang luas bacaannya dan sempit sikap toleransinya.
- 4. Harga Diri Rapuh: Manusia selalu butuh rasa aman. Jika ada perbedaan, hal itu akan langsung dicapnya sebagai suatu keanehan.
Bagaimanakah Solusinya?
Demi suatu keseimbangan, solusinya itu terletak pada dua belah pihak: pihak yang dianggap ‘aneh,’ dan pihak yang ‘menolak.’
Untuk pihak yang menolak sikap ‘keanehan’:
a. biasakan untuk berlatih jeda 5 detik: tarik nafas dalam, agar bisa menerima.
b. ganti ‘aneh’ jadi ‘beda’. Aneh itu sama dengan salah. ‘Beda’ itu sama dengan netral (Oh ya, cara dia ternyata berbeda dengan cara saya).
c. Curiosity over judgment: mengubah mode dari cara pandang seorang hakim ke cara pandang seorang wartawan. “Mengapa kamu justru memilih cara ini?”
Refleksi
Dari balik analisis ini, prinsip dasarnya justru terletak pada aspek “kedewasaan mental-spiritual.” Artinya: orang dianggap dewasa, jika:
- Pribadi yang dewasa secara mental, justru tidak panik melihat realitas perbedaan.
- Pribadi yang dewasa secara spiritual, justru sangat sadar, bahwa segala sesuatu itu memang berproses. Jadi, sesuatu yang dianggapnya sebagai ‘aneh’ hari ini, bisa saja ‘lumrah’ untuk 10 tahun mendatang.
Ingat dan Camkan!
Hal yang kini kita anggap sebagai ‘normal’, dulu justru pernah dianggap ‘aneh’.
“Persahabatan dengan diri sendiri itu sangat penting, karena tanpa itu, orang tidak mampu bersahabat dengan siapa pun juga di dunia ini.”
(Eleanor Roosevelt)
Kediri, 23 April 2026

