Salah satu lirik lagu arwah yang indah berbunyi begini, “Jikalau gandum itu tidak jatuh di tanah, tetap sebiji tiada buahnya. Sesungguhnya telah difirmankan Tuhan: jikalau mati akan banyak buahnya” (Puji Syukur No. 715).
Berbicara tentang kematian, akan penganiayaan yang terjadi di Yerusalem setelah Stefanus wafat, ternyata justru membuat pewartaan Injil meluas ke seluruh Yudea dan Samaria. Salah satu tokoh yang disebut adalah Filipus.
Pengorbanan untuk hal-hal baik itu membuahkan kebaikan, meski tidak selalu bisa dilihat langsung buahnya. Hal-hal baik itu juga tidak berhenti pada satu orang, tapi pasti berlanjut, karena kebaikan itu abadi. Ada hal-hal yang berhenti, karena sumbernya bukan pemberian diri, melainkan berhenti pada popularitas pribadi.
Filipus maju dengan penuh keberanian, meskipun berhadapan dengan situasi sulit. Ia percaya, bahwa kasih Kristus harus meluas, tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat apa pun itu.
Mari kita berkomitmen untuk memberitakan Injil dengan berani, meskipun terkadang kita harus berkorban. Tuhan akan membuatnya berbuah, tanpa kita tahu.
“Ya, Tuhan, berikanlah kami keberanian untuk mewartakan kebaikan-Mu dengan sukacita, melalui kata dan perbuatan kami. Amin.”
Ziarah Batin

