Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Gelar itu hanyalah tanda, bahwa Anda pernah belajar, namun bukanlah segalanya”
(Didaktika Hidup Sadar)
Keluhan Masyarakat
Tulisan refleksi ini diangkat, bertolak dari keluhan masyarakat, bahwa “Mengapa kaum intelektual kita, justru sering bertindak tidak dewasa secara mental spiritual?”
Apa itu Kedewasaan Mental Spiritual?
Kapasitas seseorang untuk mengelola pikiran, emosi, dan egonya berdasarkan nilai-nilai luhur, sambil sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, esensi sentral yang dipermasalahkan adalah “mengapa gelar sarjana itu, justru tidak identik dengan sikap kedewasaan mental dan spiritual?” Jadi, di balik tulisan ini, terdapat sebuah keluhan dan rasa kecewa kepada kaum intelektual kita.
Bahwa realitas ini sungguh nyata. Kala para Sarjana kita, ternyata sangat doyan korupsi, Profesor kita, malah bersikap sangat emosional, para Doktor kita pun tidak mampu menganalisis sebuah masalah. Mengapa dapat terjadi demikian? Hal ini dapat terjadi, karena bukankah “konsentrasi suasana kampus dan cita-cita kedewasaan itu justru bermain di lapangan yang sangat berbeda!”
Di antara Dua Buah Tuntutan yang Berbeda
A. Tututan Dunia Kampus:
- Untuk meraih gelar akademik, mahasiswa dilatih di ruang kelas tertutup, ada ujian skripsi, tesis, dan disertasi.
- Standarnya adalah: IPK.
- Kompetensinya adalah ranah kognitif yang serba rasional.
- Out putnya adalah selembar ijazah.
B Tuntutan Ideal sesuai Idealisme Masyarakat
- Masyarakat yang sering berkonflik, godaan korupsi, dihimpit tekanan hidup, maka dibutuhkan pribadi yang dewasa secara mental spiritual.
- Butuh pribadi yang bersikap konsisten.
- Pribadi berintegritas, konsisten, dan berkepribadian.
- Out putnya adalah sikap keteladanan.
Ke-enam Faktor yang Melatari Lahirnya Sikap Inkonsisten dalam Diri Kaum Intelektual Kita
- Sistem pendidikan kita yang serba kognitif. Selama kurang lebih 16 tahun kaum terdidik kita cuma dijejali isi kepalanya, tapi dengan nol jam untuk proses pengolahan hati nurani. Kita diajari kalkulus, tapi tidak diajarkan bagaimana cara mengintegralkan antara ilmu dan amal.
- Gelar diidentikan dengan status: tapi justru bukan proses pematangan. Banyak calon kaum terdidik kita yang kuliah, karena tuntutan ‘sosial’, dan bukan karena tuntutan ‘jiwa’. Motivasi ekstrinsiknya: agar dipandang hebat, golongan gaji akan dinaikkan, dan bisa nyinyir dengan menempelkan gelar di depan dan di belakang nama. Jadi, dalam konteks ini, ijazah didapat, tapi jiwa tidak ikut lulus.
- Tidak ada ujian untuk mata pelajaran karakter di dunia nyata. Di kampus calon intelek itu sebagai tukang nyontek berarti ia tidak lulus. Tapi di lapangan menyogok itu justru malah dapat naik pangkat.
- Lingkungan dan diri teladan: kita semua bertumbuh dalam budaya yang hormat kepada orang pintar, tapi jarang hormat kepada orang benar. Gelarnya bisa berderet, tapi moralnya sangat bejat
- Spiritualitas dipisahkan dari Intelektualitas: orang mengurangi, jika sudah rasional dan ilmiah, tidak perlu lagi olah batin. Agama kita cuma ritual belaka dan bukan sebagai kompas hidup.
- Luka batin yang tidak disembuhkan: trauma masa kecil, luka harga diri, dan semua hal ini tidak otomatis sembuh di saat wisuda. Gelar bisa menutupi luka dengan memakai jas akan mater.
Refleksi
Jadi, jika memang demkian realitasnya, apa yang perlu kita perbuat?
Ya, silakan mengacakan diri, sambil meneladani sosok pribadi dewasa.
“Wahai kaum intelektual, bergurulah pada ilmu padi, yang makin berisi justru kian merunduk!”
Kediri, 21 April 3026

