Seorang gadis remaja mengalami patah hati dan mengunci dirinya di kamar. Tidak seorang pun dalam keluarganya itu dapat mendekat dan memberikan nasihat atau penghiburan. Sedang pacarnya yang memutuskan hubungan itu tidak bisa dikontak.
Seorang Pastor di paroki dihubungi untuk berbicara dengan gadis itu. Melalui telepon Pastor itu pertama-tama memberi dia pengertian, lalu membuka kesempatan dirinya dengan leluasa berbicara tanpa rasa tertekan. Setelah itu Pastor mengarahkan dia kepada suatu terang dari Tuhan yang selalu baik hati dan menerima orang-orang yang mengalami kesulitan. Pada akhirnya, gadis itu dapat diyakinkan untuk mengampuni pacarnya, lalu melakukan pengakuan dosa, dan dilanjutkan dengan menerima Komuni Kudus di dalam Ekaristi.
Pengalaman gadis itu adalah umum dalam hidup banyak orang. Kita mengalami semacam krisis dalam hidup. Lalu ada bantuan pihak lain yang membuka kesadaran kita untuk melihat terang firman dan kebijaksanaan Tuhan agar didengar dan diikuti. Akhirnya kita sampai pada puncak penyelesaian masalah dengan berjumpa Tuhan yang didambakan, melalui sebuah perayaan iman atau peristiwa rohani yang spesial.
Ilustrasi itu sungguh terjadi dengan dua murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus. Mereka berjumpa Yesus yang membantu menyelesaikan krisis iman yang dihadapi. Perjumpaan mereka dengan Tuhan ialah, ketika mereka mendengarkan firman dari Kitab Suci dan saat Yesus memecahkan roti yang dibagikan kepada mereka.
Peristiwa iman dalam bentuk sabda Tuhan yang diwartakan dan roti Ekaristi yang dibagikan terjadi di dalam perayaan-perayaan Misa. Pada saat inilah kita harus dapat mengenal Tuhan dengan amat jelas.
Untuk sampai mengenal Tuhan dengan jelas dan sesungguhnya, prosesnya itu tidak mulus. Sebelum menghadiri Misa Kudus untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerima Komuni Kudus, kita yang hidup berada di tengah krisis, baik konflik, berbagai perasaan negatif seperti kesal, jengkel, iri dan marah itu harus disingkirkan serta dibuang jauh. Kita selalu diingatkan, bahwa Tuhan Yesus memanggil kita untuk jadi sempurna seperti diri-Nya dan Bapa. Ia bangkit dari kematian untuk menebus dan menyelamatkan kita. Terang ini yang mengarahkan kita untuk bertemu dengan-Nya di dalam perayaan Ekaristi. Di sana kita mendapat pengampunan dari-Nya, dihibur dan dikuatkan oleh Sabda-Nya, lalu dikuatkan kembali dengan makanan dari tubuh-Nya sendiri.
“Ya, Tuhan Yesus, ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah kami supaya jadi kuat kembali. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

