“Bekas itu bukan berarti dibuang, melainkan mempunyai cerita yang layak dibagikan dan diteruskan” Rio.scj.
Jerman mempunya kata yang sulit diterjemahkan ke bahasa lain ‘zu verschenken’ artinya barang bekas yang dibagikan untuk melanjutkan kisahnya. Biasanya orang Jerman akan menaruhnya di depan rumah atau di pinggir jalan. Siapa pun yang mau itu boleh mengambil gratis. Furniture, baju, cermin, sepeda, atau barang antik. Bukan karena tidak bisa dijual, melainkan mereka percaya barang yang sudah melayani selama ini pantas mempunyai cerita baru.
Barang saja mempunyai cerita untuk dilanjutkan. Lebaran sejarah terus dituliskan. Ironinya banyak orang ingin menutup lebaran sejarah kehidupannya. Sudah putus asa dan bosan menuliskannya, karena hidup terasa sesak penuh masalah dan beban.
Bila hari ini kita berada dalam situasi itu, yakinlah semua itu akan baik-baik saja. Kesusahan sehari itu cukuplah sehari. Besok ada kesusahannya sendiri. Meski tidak semua hari terasa baik, selalu ada hal baik setiap harinya. Masalah itu datang untuk mendewasakan. Tantangan datang, Tuhan menyediakan peluang. Beban itu harus diangkat, agar makin bertambah berkat. Gagal itu dialami, agar kelak kita layak sukses. Luka dan kepahitan itu harus dirasakan, agar kita bertambah dalam kebijaksanaan.
Lembaran sejarah kehidupan itu layak diperjuangkan dan terus dituliskan. Bukan untuk dipuji orang. Bukan pula hanya memberi inspirasi, melainkan rasa syukur atas karunia kasih Tuhan yang mempercayakan kehidupan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

