Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jadilah seperti garam, tidak terlihat, tapi memberi rasa. Tidak perlu pengakuan untuk jadi bermakna.”
(Anonim)
Tentang Sebutir Garam
Suatu waktu ‘sebutir garam’ meninggalkan rumahnya untuk sekadar melancong. Ternyata di mana pun dia berada, masyarakat sangat antusias menyambutnya. Bahkan tidak sedikit warga yang rela dan ikhlas untuk menciumi tangannya.
Mendapat perlakuan seistimewa itu, ia penasaran dan bertanya-tanya dalam hatinya, “Apa dan mengapa sampai warga memperlakukan diriku sedemikian hangat dan ikhlas?”
Ia lalu bertanya kepada seorang koki dapur, “Mengapa, di mana pun aku berada, warga menyambut diriku dengan hangat dan penuh hormat?”
“Ya, karena keberadaanmu, justru sangat bermakna. Bukankah, walaupun sebutir saja keberadaanmu, itu sudah sungguh berarti bagi kehidupan kami.”
(Dari berbagai Sumber)
Makna ‘Sosial dan Filosofis’ dari Sebutir Garam
Sebutir garam itu memang kecil, tidak tenar, murah, dan dianggap tidak berguna. Tapi, bagaimanakah, jika sayur tanpa dilaruti sebutir garam? Nah, di situlah letak kedasyatannya!
Jika Ditinjau dari ‘Aspek Sosial’, maka:
- (1) Garam itu tidak hidup bagi dirinya sendiri. Ia akan segera melarut dan hilang. Ia tidak pernah mau mencari muka.
- (2) Garam sebagai bahan pengawet, yang mencegah sesuatu agar tidak mudah membusuk. Dalam konteks hidup sosial, ia mampu mencegah sikap menggosip, mengerupsi, dan sikap mudah putus asa.
- (3) Garam dapat membangkitkan rasa sedap: ia tidak membuat sayur jadi garam, tapi justru sayur kangkung akan semakin terasa sebagai kangkung.
- (4) Garam dapat menyakiti luka: jika garam kena luka, maka terasa perih. Hal ini bermakna, bahwa kehadiran orang benar, kadang-kadang dapat meresahkan orang yang tidak benar.
Sebuah Pesan Moral
“Jangalah Anda takut jadi garam, tapi takutlah, jika jadi micin, yang hanya ramai di ujung lidah, hampa gizi, dan juga hanya bikin haus!”
Jika ditinjau dari “Aspek Filosofis,” maka, sebutir garam itu bereksistensi traseden.
Unsur yang terkecil dapat menopang hal yang terbesar.
Filsafat, sering silau pada sesuatu yang besar. “Gunung yang tinggi, samudra biru yang luas terbentang, da api yang panas membara.”
Perlu ingat! Dapur hidup justru dijaga oleh hal-hal yang kecil, “sebutir garam, setitik ragi, sehelai sumbu lampu.” Ingat prinsip: kecil-kecil cabai rawit.
Kehancuran sebagai Sebuah Jalan atau Cara
Garam itu baru benar-benar berguna, justru jika ia melarut dan hancur. Itulah prinsip ‘philosophia,’ yakni ‘Crucis’ artinya, manusia itu baru sungguh bermakna, jika ia rela mati dari egonya, dari jabatannya, dan dari gengsinya, yang akhirnya melarut dalam nasib orang lain.
Rasa asin adalah sebuah ‘identitas dan bukan sebagai fungsi.’ Karena, jika gula disuruh asin itu mustahil. Juga jika garam itu disuruh manis, maka akan hilang identitas atau jati dirinya. Seperti kata Santo (Matius, 5: 13) “Jika garam itu kehilangan asinnya, dengan apa ia diasinkan lagi?
Universal, tapi personal: bahwa garam itu justru dipakai di mana-mana. Garam dipakai di istana Raja dan Ratu, tapi juga di kedai kopi kampung.
Refleksi
- Coba! Sebutir garam jatuh di lantai pualam. Tak ada seorang pun yang peduli / tak ada yang mau pungut. Tapi, coba, jika takaran garam di lintingan rokok itu kurang terasa, maka jutaan konsumen pun akan segera memrotes.
- Tuhan tidak menagih kita untuk jadi sebongkah garam. Ia hanya minta kita, jadilah sebutir garam. Sebab di Pengadilan terakhir, Dian pun tidak bertanya, “Berapa ton garam yang telah kau hasilkan.” Dia cuma mau bertanya, “Berapa keping hati yang tidak hambar, karena keberadaanmu!”
Kediri, 18 April 2026

