“Waktu tidak akan menunggu, hanya untuk membalut luka dan deritamu,” -Rio, Scj.
Salah satu fakta pahit dan manisnya kehidupan di setiap usia. Usia 18 sd 24 tahun, kita dikejar ambisi, tapi sering kita tidak tahu siapa jati diri ini. Usia 25 sd 34 tahun, kita mulai sadar, bahwa hidup ini tidak gampang dan tekanan datang dari segala arah. Masalah datang silih berganti. Usia 35 sd 44 tahun, sering ada banyak penyesalan. Soal karier, pernikahan, bisnis dan pekerjaan, dan bahkan impian yang nggak kesampaian. Di usia 45 sd 54 tahun, kita mulai berdamai, tapi diam-diam menyimpan pertanyaan, apa semua ini layak?
Setiap usia itu mempunyai luka dan cerita. Setiap masa itu mempunyai bahagia dan deraian air mata. Setiap umur ada saatnya mengeluh dan bersyukur. Setiap peristiwa ada gagal dan suksesnya. Semua itu adalah proses menuju batas kehidupan. Agar saat waktunya tiba semua jadi sempurna adanya.
Berhentilah untuk membandingkan zona usia kita, dengan orang lain. Kita semua mempunyai waktu yang beda-beda untuk tumbuh. Bertumbuhlah dalam iman, harapan dan kasih agar hidup kita menghasilkan banyak buah. “Vita est brevis,” hidup itu singkat. Karena itu gunakan yang singkat itu dengan fokus dan keseriusan, agar tidak ada lagi penyesalan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

