“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh 6: 9).
Lewat mujizat penggandaan roti dan pemberian makan kepada lima ribu orang, Yesus hendak mengajarkan kita, bahwa Allah berkenan melibatkan manusia dalam karya-Nya. Dengan kuasa-Nya, Tuhan mengubah persembahan yang kecil jadi karya yang besar.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, begitu banyak orang yang ‘lapar’ dan ‘haus’, bukan hanya karena kekurangan makanan atau minuman, melainkan juga karena kekosongan rohani, kehilangan arah, atau luka batin yang memerlukan penghiburan.
Tuhan Yesus menunggu kita untuk jadi perpanjangan kasih-Nya. Ia tidak menuntut karya spektakuler, tapi kesetiaan dalam tindakan sederhana: segelas air bagi yang haus, pakaian bagi yang kedinginan, kunjungan bagi yang kesepian, hiburan bagi yang putus asa, atau pengampunan bagi mereka yang melukai hati kita. Melalui tindakan kecil ini, kita membawa cahaya Kristus kepada dunia.
Ketika kita memberikan diri dalam pelayanan, kita tidak pernah sendirian. Rahmat Tuhan selalu menyertai, menuntun, dan menyempurnakan kekurangan kita. Ia mengambil persembahan kecil kita dan menjadikannya sarana keselamatan bagi banyak jiwa.
Sr. M. Irena, P. Karm
Jumat, 17 April 2026
Kis 5: 34-42 Mzm 27: 1.4.13-14 Yoh 6: 1-15
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

