Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“If you want to test a man’s character, give him power.”
“Jika Anda ingin melihat karakter asli seseorang, berilah ia kekuasaan.”
(Abraham Lincoln)
Tentang Laku Pejabat
Laku pejabat kita tidak ubahnya preman pasar yang suka berjalan dengan dada membusung. Wibawanya menenteng arogan, ucapannya mengandung kesombongan. Hal itu ditunjukkan, karena kuasa dan pengaruh yang dimilikinya.” Demikian sub judul dari Kolom Opini, Surat kepada Redaksi, berjudul, “Pejabat Rasa Preman” oleh Ihsan Nursidik, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Kompas, Rabu, (15/4/2026).
Selanjutnya dijelaskannya, bahwa rakyat jelata sungguh tidak berdaya, setelah membayar pajak, masih juga rakyat diperas lewat upeti, seperti kebiasaan menyogok. Mereka bertindak sesuka hatinya dengan argumen demi kesejahteraan rakyat. Dalam konteks tindakan yang tak beradab ini, pantaslah, jika mereka dirasakan sebagai preman yang suka memalak. Lewat sikap konyol berupa semau gue ini, mereka telah memiskinkan rakyat sebagai pemangku kedaulatan.
Bahkan di kalangan rakyat dikenal sebutan atau istilah “uang setan raib dimakan hantu” akan terus berputar. Sudah haram, hilang ditelan kesia-siaan.
Apa Makna Kata Pejabat dan Preman?
‘Pejabat’ itu orang yang telah diberi kuasa resmi. Dilegitimasi hukum, disumpah atas nama Tuhan, dan digaji rakyat. Sedangkan ‘preman’ adalah orang yang memakai kuasa menjalankan kekuatan otot, intimidasi, dan yang penting ditakuti.
Dalam hal ini, ‘pejabat rasa preman’ berarti orang yang kursinya dari konstitusi, tapi kelakuannya dari terminal. Kuasanya digunakan untuk menindas dan memeras. Dalam konteks ini, Santo Chrisostomus berkata, “Tidak ada yang lebih hina daripada orang yang memakai jubah kehormatan, tapi berhati perampok.”
Jadi, “pejabat rasa preman” itu justru lahir, karena:
- Memiliki karakter busuk: sikap serakah, gila hormat, dan doyan menginjak rakyat.
- Kuasa yang menyebabkannya: dulu mereka bersikap ramah, tapi begitu jadi kepala, preman di dadanya pun merasa mendapatkan panggung.
Refleksi
- Jadi, standar kerajaan Surga itu terbalik, “makin tinggi kursi, makin rendah hati. Makin besar kuasa, makin kecil aku.”
- Kesimpulan! Jadi, pejabat rasa preman itu bukan sekadar kritik sosial, tapi sebuah ujian batin.
- Kata santo Chrisostomus, “Jabatanmu bukanlah milikmu, tapi itu titipan dari Allah untuk janda, yatim, dan orang asing. Kalau kau pakai untuk menakut-nakuti mereka, maka kau sedang berperang dengan tangan besi.
Kediri, 17 April 2026

