“One heart, one soul.” Sehati sejiwa. Kata-kata ini lebih dari sekedar ungkapan yang romantis di antara orang-orang yang saling mencintai.
Dalam Kisah Para Rasul dituturkan tentang perkumpulan Kristiani pertama yang berisi orang-orang beriman kepada Kristus yang mengutamakan hidup dalam sehati dan sejiwa.
Satu bentuk contoh gaya hidup mereka ialah dari pihak di luar lingkaran para Rasul menaruh barang-barang kepunyaannya masing-masing dalam satu pengelolahan bersama supaya ada keadilan dan pemerataan bagi seluruh anggota. Sementara itu, para Rasul sendiri memberikan kesaksian dalam pengajaran, pewartaan, dan penguatan rohani tentang Kristus yang bangkit. Hasilnya ialah setiap orang dan keluarga di dalam persekutuan itu tidak mengalami kekurangan. Berkat ajaran dan semangat hidup bersama itu, pengalaman iman dalam merasakan sehati dan sejiwa sungguh sebagai suatu kenyataan.
Dengan kata lain, ungkapan “sehati dan sejiwa” itu merupakan suatu gaya hidup dalam keseimbangan. Hati menggambarkan satu bagian fisik atau biologis tubuh manusia. Sehingga kalau dikatakan kita ini sehati, berarti Anda atau kalian dan saya memiliki satu persekutuan pribadi-pribadi yang konkret, yaitu yang besar, tua, gemuk, kurus, hitam, putih, pendek dan ciri fisik lainnya. Latar budaya, ras, bahasa, bangsa dan lain sebagainya itu menandakan perbedaan-perbedaan yang diarahkan oleh Yesus Kristus untuk bersatu dalam satu kumpulan persekutuan Kristiani.
Jiwa menandakan kehidupan dan kesadaran yang berdiam di dalam hati. Jiwa merupakan pusat semua perasaan dan emosi manusia. Energi dan semangat hidup ke luar dari jiwa manusia. Tanpa aspek ini hati dan tubuh manusia dianggap loyo, tak ada semangat, dan mati. Sehingga kalau dikatakan kita ini sejiwa, berarti Anda atau kalian dan saya memiliki persekutuan bersama dengan perasaan, emosi, semangat, dan energi rohani yang sama. Bagaimana orang-orang dari satu kampung atau budaya merasakan nasibnya yang sama, suami-istri mengalami emosi atau marah yang sama, jika istri itu diperlakukan tidak adil oleh orang lain, dan masih banyak contoh lagi.
Jadi sehati sejiwa itu sungguh menggambarkan, bahwa hidup beriman itu perlu keseimbangan aspek jasmani dan rohani. Kepada Nikodemus, Yesus meyakinkan dia, bahwa Anak yang diutus dari Atas, yaitu dari Bapa, adalah kepenuhan aspek rohani itu. Hanya dengan menerima, mengakui, dan percaya akan Dia, realitas jasmani di dunia akan dilengkapinya, demi mewujudkan kehendak Allah untuk menyempurnakan dunia ini. Sehati sejiwa adalah tanda iman yang sangat nyata.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, berkatilah kami supaya ciri sehati sejiwa jadi kenyataan dalam hidup kami setiap saat. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

