Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kejujuran, kerja keras, dan jangan ngomong saja, tapi lakukan. Manajemen harus bersedia turun ke lapangan. Karyawan merupakan aset utama. Perhatikan, pedulikan, dan libatkan karyawan.”
(PK Ojong)
Apa itu ‘Managing Up?’
‘Managing up’ adalah potensi yang dimiliki seseorang untuk mengelola hubungan dengan atasan atau pimpinan secara efektif.
Hal ini melibatkan dan memahami kebutuhan atau prioritas, dan gaya kerja atasan, lalu menyesuaikan diri untuk memenuhi harapan mereka demi mencapai tujuan bersama.
Camkan! Bukankah tujuan yang paling sentral dari keterampilan ‘managing up’ adalah membangun relasi yang kuat dengan atasan, meningkatkan kinerja, demi mencapai kesuksesan bersama.
Hindarilah Salah Paham
Banyak orang salah memahami istilah ini. Mereka mengira ‘managing up’ berarti menjilat atasan, sekadar membuat atasan senang dengan membawakan makanan kesukaannya ataupun pujian manis. Padahal, maknanya jauh lebih sederhana dan jauh lebih dewasa.
‘Managing up’ berarti membantu atasan berhasil dalam pekerjaannya. Melody Wilding, penulis buku ‘Managing Up’, mengatakan, “Kesuksesan di tempat kerja tidak lagi hanya soal mengelola kondisi psikologis diri sendiri. Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi psikologis orang-orang di sekitar Anda. Demikian pandangan dari Eileen Rachman & Emilia Jakob, konsultan SDM Kompas, Kompas Sabtu Minggu, (4/5/4/2026), berjudul “Mengelola Atasan.”
Sulitnya Jadi Atasan
“Kian tinggi sebatang pohon, kian besar pula ia akan diterpa angin,” demikian peri bahasa bangsa kita. Sungguh, tidak mudah jadi atasan dalam sebuah organisasi yang penuh gejolak dan aneka tantangan. Untuk itu, seorang atasan membutuhkan juga uluran tangan dari para anggotanya lewat berbagai cara.
Untuk itu, kedua belah pihak (atasan dan karyawan), perlu bekerja sama dan saling mendengarkan. Selain itu, sangat dibutuhkan sikap keterbukaan dan saling suport secara jujur serta transparan.
Dalam konteks ini, karyawan yang berpikiran maju dan bersikap dewasa dapat memberikan masukan positif kepada atasan, antara lain, lewat keterampilan ‘managing up’ ini.
Untuk itu, organisasi yang dinamis membutuhkan karakter karyawan yang bersikap empati dan kejujuran sejati. Bersikaplah, bagaikan antara seorang Bapak dan anaknya, sehingga dapat melahirkan sebuah relasi yang harmonis, jujur, dan terbuka.
Bagi seorang atasan yang ideal, sangat diperlukan untuk bersikap rendah hati, dengan cara mendekati dan sesekali dapat berbicara santai dengan karyawan. Maka, lewat cara ini akan bertumbuh susana keakraban dan kedekatan yang sangat manusiawi. Dari suasana kedekatan inilah akan melahirkan keakraban yang bersifat alamiah.
Mungkin, di sinilah esensi ‘managing up’ yang sebenarnya. Tidak sekadar mengelola hubungan dengan atasan, tapi juga membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih baik, bersama-sama. Demikian Eileen & Emilia mengakhiri pandangan mereka.
Refleksi
“Salah satu rahasia sukses adalah jadilah solusi dan bukan problem!”
(Shiv Khera)
…
Kediri, 6 April 2026

