“Pandanglah salib itu dan hidupi di pikiran serta hati agar ucapkan dan perilaku kita mencerminkan Pribadi yang di salib.” -Mas Redjo
…
Dengan selalu membiasakan dan mendisiplinkan diri memandang salib Yesus, saya berusaha untuk mengurai dan memahaminya, lalu menerapkannya dalam hidup keseharian.
Intinya adalah agar tragedi “Orang benar dan tidak bersalah yang dihukum mati” (Luk 23: 4) itu tidak terulang kembali dalam hidup keseharian kita.
Peristiwa sedih, tragis, dan miris itu sungguh menguncang hati kita ke jurang penyesalan. Yesus yang tidak bersalah rela berkorban demi menebus dosa dan menyelamatkan kita. Maknanya jelas agar kita tidak mengulang-ulang kekonyolan dan bertindak arogan serta berlaku tidak adil dengan menyalib orang benar, baik, dan tidak bersalah.
Dalam setiap keluarga, kita dituntut untuk mempunyai salib. Tujuannya agar kita tidak bertindak semena-mena terhadap anggota keluarga. Orangtua agar tidak otoriter pada anak yang dilahirkan, dididik, dan dibesarkannya. Begitu pula anak terhadap orangtua agar tidak menyia-nyiakannya, ketika mereka makin uzur. Tapi selalu menjaga hati dan perasaan anggota keluarga untuk menghargai, menghormati, dan mengasihi satu dengan yang lain. Sehingga tercipta hubungan yang harmonis dalam keluarga dan bahagia.
Begitu pula dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Kita dituntut untuk selalu mengedepankan kasih di atas segala-galanya. Kita hadir dan ada untuk mereka yang hina papa dan menderita.
Selalu menghadirkan kasih Yesus yang di salib itu juga diterapkan di intansi pemerintahan dan swasta. Kita dituntut untuk mengedepankan hati dalam menyikapi persoalan dan masalah itu dengan menjauhi konflik, perpecahan, permusuhan, dan dendam.
Selalu menghadirkan wajah kasih Yesus, kita jadi pribadi yang jujur, benar, dan berintegritas tinggi dalam memerangi iri hati, dengki, kemunafikan, ketidak-adilan, serta peperangan.
Berani menanusiawikan manusia untuk hidup jujur dan benar, karena kita meneladani Yesus yang di salib. Itulah makna salib sebagai simbol kemanusiaan sejati.
…
Mas Redjo

