“Apakah Tuhan Allah memiliki batas?” tanya seorang remaja kepada Pastor Parokinya. Jawab sang Pastor, “Ya, Tuhan menetapkan batas-batas tertentu, ketika sejak manusia pertama. Syarat-syarat ditetapkan supaya manusia yang memiliki kebebasan itu harus bertanggung jawab atas kepercayaan yang Tuhan berikan.
“Terus kenapa Tuhan dikatakan juga selama-lamanya?” sanggah remaja itu. Pastor lebih mendekatinya dan menjelaskan.
“Jadi bagi Tuhan, Ia tidak terbatas dalam kehendak, kemurahan, dan keberadaannya. Ia kekal dan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Tapi dalam memberikan ajaran dan perintah kepada manusia, Tuhan menetapkan batas-batas. Kita memiliki sejumlah batas berupa perintah-perintah-Nya seperti: jangan berbohong, mencuri, berbuat cabul, jangan malas, dan seterusnya.”
Setelah memahami penjelasan Pastor, ia kembali ke rumahnya, dan mulai menulis sejumlah perintah Tuhan yang harus diikutinya dalam bertingkah laku. Karena ia sering lupa akan tugas-tugas utamanya, ia menetapkan batas-batas keinginannya, yaitu bermain hp satu jam di sore hari dan satu jam lagi di malam hari. Waktu yang lain ia pakai untuk mengerjakan yang diminta orangtuanya dan belajar mengulangi pelajaran serta mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.
Di dalam masa Prapaskah ini, remaja tadi memiliki beberapa daftar berupa batas-batas yang mengontrolnya di dalam bertingkah laku. Ia benar-benar mengikuti arahan dan nasihat dari Pastor Paroki dan orangtuanya.
Secara umum kita sebagai pengikut Kristus dan anggota Gereja, Tuhan Allah menetapkan batas-batas umum untuk diikuti dan dipatuhi. Batas-batas umum itu berlaku bagi semua orang, setiap tempat, dan segala zaman.
Melalui inspirasi bacaan liturgis, kita diingatkan tentang diri pribadi ini dan sebagai komunitas umat yang beriman kepada Kristus, yang membentuk Gereja yang satu dan kudus, sebagai orang-orang-Nya Yesus Kristus. Kita adalah bagian dari Yesus dan bukan Setan. Identitas kita sebagai orang Kristen, yaitu orang-orang-Nya Kristus merupakan batas umum yang kita jaga, banggakan, dan pelihara.
Dua seruan yang penting bagi kita ialah: menjaga batas ini dengan jadi bangsa atau komunitas orang-orang yang selalu mendengarkan Tuhan. Keras kepala, keras hati, dan memilih jalan sendiri, sangat bertentangan dengan identitas itu. Berikutnya, identitas ini kita pelihara dengan tetap selamanya bersama Yesus Kritstus, sebab Ia sendiri menegaskan, bahwa tidak bersama Dia berarti jadi musuhnya Dia.
“Ya, Yesus, terima kasih atas rahmat persekutuan yang menyatukan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

