Kodrat manusia menurut Allah Pencipta, yang membuat kita lebih unggul dibandingkan makhluk hidup yang lain adalah kita memiliki akal budi dan kebebasan. Penggunaan kedua elemen kodrati ini dipercayakan Tuhan secara penuh kepada kita. Hasilnya selalu ada dua macam, yaitu manusia memilih untuk memenuhi kemauannya sendiri yang pasti mengakibatkan dosa dan penderitaan, atau memilih untuk mengikuti ajaran dan hukum Tuhan.
Untuk pilihan yang kedua, akal budi dan kebebasan kita mengenal batasnya, ketika mereka harus berkolaborasi dengan kehendak Tuhan. Manusia sepintar apa pun, ia akhirnya menyadari, kalau kepandaian Tuhan melebih dirinya. Demikian juga sebebasnya dia untuk berkata atau berbuat apa saja, akhirnya diakui juga, bahwa Tuhan lebih berkuasa daripada dirinya. Sampai pada batas ini, sebenarnya iman yang berperan untuk menjelaskan kebesaran dan kemahakuasaan Allah untuk dapat diterima oleh akal budi dan kebebasan kita.
Dengan kepandaian dan kebebasan itu, kita belajar melakukan yang diajarkan Tuhan. Tujuannya, supaya kemampuan kodrati kita dapat berkolaborasi dengan penyelenggaraan Tuhan. Kitab Ulangan menguraikan tentang ajaran ketetapan dan peraturan. Musa meminta umat Allah untuk selalu menaati dan setia pada yang ditetapkan oleh Tuhan dan yang jadi aturannya.
Ketaatan dan kesetiaan ini tidak mengurangi akal budi dan kebebasan kita, tapi mendapatkan nilai plus, yaitu kebijaksanaan Ilahi. Fungsi akal budi untuk ini ialah mengingat, memahami, dan membahasakan yang Tuhan ajarkan secara benar dan tepat. Fungsi kebebasan ialah untuk menyebarkan kebenaran supaya dapat menguasai dan mengarahkan kehidupan ini di dalam jalan Tuhan untuk sampai kepada Tuhan sendiri.
Umat Tuhan yang setia dan taat memiliki suatu tugas yang penting selanjutnya dalam melakukan yang diajarkan Tuhan. Rahmat pembaptisan dan keanggotaannya di dalam Gereja memandatkan mereka tanggung jawab untuk mengajarkan itu kepada orang lain, bahkan mereka yang tidak dikenalnya. Tanggung jawab dalam ketaatan dan kesetiaan untuk melakukan ketetapan dan peraturan dari Tuhan mungkin lebih bersifat personal dan terbatas pada lingkup terbatas. Untuk jadi pengikut Kristus yang berguna dan bermartabat itu mempunyai tanggung jawab sosial dan publik, yaitu mengajarkan itu kepada sesama. Bahasa Kitab Sucinya ialah sebuah tanggung jawab sebagai garam dan terang dunia. Hidup setiap pengikut Kristus adalah sebuah kenyataan belajar dan mengajar.
“Ya, Allah yang bijaksana dan murah hati, penuhilah diri kami dengan kebijaksanaan dan kemurahan-Mu, agar kami dapat jadi garam dan terang dunia yang sesungguhnya. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

