Oleh: Peter Suriadi
Pastor Bruno Kant berusia 110 tahun, pada 26 Februari 2026 lalu. Paus Leo XIV mengucapkan selamat kepada Imam asal Jerman itu dan berterima kasih kepadanya atas pengabdiannya selama beberapa dekade bagi Gereja.
“Saya senang mengetahui, bahwa Anda akan merayakan ulang tahun ke-110 serta mengucapkan selamat dan menyampaikan berkat terhangat saya kepada Anda,” tulis Paus Leo XIV kepada Pastor Kant, sebagaimana dikutip surat kabar Fuldaer Zeitung.
Perayaan ulang tahun itu dihadiri tidak hanya oleh penduduk kota tetangga Eichenzell dan Löschenrod, tapi juga perwakilan pemerintah dan Gereja. Uskup Keuskupan Fulda, Michael Gerber, mengatakan, “Saya menerima penegasan dari Vatikan, bahwa beliau adalah Imam tertua di dunia. Paus Leo XIV bahkan mengiriminya kartu ulang tahun.”
Sebagaimana dilaporkan katholisch.de pada November 2025, Pastor Kant, yang lahir di dekat Danzig, Polandia. Ia ingin jadi Imam sejak usia 9 tahun. Ia memulai studi teologinya, namun rezim Nazi menggagalkan rencananya dengan merekrutnya untuk kerja paksa dan menjadikannya seorang tentara.
Pastor Kant menghabiskan empat tahun sebagai tawanan perang di Rusia sebelum dipertemukan kembali dengan keluarganya, yang telah melarikan diri ke Barat.
Pastor Kant ditahbiskan jadi imam pada tahun 1950. Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai Imam, ia tidak lagi melakukan beberapa hal, karena usianya yang sudah lanjut. Beliau berhenti mengemudi pada usia 102 tahun, menurut media berita tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, beliau telah menahan diri untuk tidak secara teratur merayakan Misa Kudus bersama umat pada Rabu petang. Namun, beliau tetap mengunjungi orang sakit selama beliau mampu. Sekarang hal itu tidak mungkin lagi beliau lakukan.
Pastor Kant mengakui, bahwa ia “tidak jauh dari kematian,” tapi beliau menghabiskan hari-harinya dengan mengerjakan Sudoku, menonton televisi, membaca koran, dan, tentu saja, berdoa. “Doa membuatku awet muda,” katanya.
Angka 110 bukan saja menimbulkan kekaguman, tapi konsistensi yang teduh dari sebuah panggilan yang dijalani selama lebih dari satu abad membuat perjalanan hidup Pastor Kant sangat inspiratif. Kehidupan imamat jarang dramatis. Kehidupan itu terungkap dalam baptisan dan pemakaman, homili hari Minggu dan kunjungan hari kerja, doa yang dipanjatkan untuk orang lain dan ritme kehidupan Paroki yang stabil. Seiring waktu, tindakan-tindakan kecil itu jadi ukuran sebenarnya dari kehidupan pelayanan.
Pastor Kant, dapat dikatakan, merupakan jembatan antar generasi iman. Beliau telah menjalani rentang waktu yang luar biasa dalam sejarah Gereja. Selama hidupnya, beliau telah mengalami masa pontifikasi beberapa Paus, dari Pius X hingga Paus Leo XIV, Konsili Vatikan II dan transformasi kehidupan Katolik yang mengikutinya; kanonisasi para Santo seperti Santo Padre Pio, Santo Yohanes Paulus II, dan Santa Teresa dari Kalkuta, dan perayaan Yubileum yang menandai titik balik dalam era modern Gereja.
Gereja yang pertama kali dikenalnya sewaktu ia muda telah berubah dalam banyak hal, tapi inti dari panggilannya tetap sama: melayani Allah dan menggembalakan umat yang dipercayakan kepadanya.
Pesan singkat Paus Leo XIV menangkap hal itu dengan indah. Pesan itu tidak berfokus pada rekor atau umur panjang, tapi pada kesetiaan. Bagaimanapun, kehidupan iman jarang diukur dalam momen-momen dramatis, tapi dalam kemauan yang teguh untuk terus melanjutkan, tahun demi tahun.
Usia 110 tahun Pastor Kant mengingatkan kita, bahwa terkadang kesaksian yang paling kuat bukanlah suatu tindakan heroik, tapi seumur hidup yang dihabiskan dengan tenang melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
(Bapak Peter Suriadi)

