Tetapi Abraham berkata: “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk” (Luk 16: 25a).
Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus menggambarkan kontras tajam antara kehidupan orang kaya yang hidup dalam kemewahan (yang tidak disebut namanya) dan Lazarus yang miskin dan menderita di dunia. Setelah meninggal, nasib mereka berbalik: orang kaya mengalami penderitaan kekal, sedangkan Lazarus menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah.
Kisah ini menimbulkan pertanyaan: apakah harta di dunia secara otomatis membawa seseorang pada penderitaan, atau kemiskinan membawa kebahagiaan di akhirat? Jawabannya jelas: Tuhan tidak membenci orang kaya, sebagaimana terlihat dari murid-murid-Nya yang memiliki status sosial tinggi, seperti Yohana, istri Khuza, dan Yusuf dari Arimatea.
Orang kaya dalam perumpamaan itu menderita di akhirat itu bukan karena hartanya, melainkan karena ia gagal mengasihi. Ia gagal membuka hati dan peduli terhadap kehadiran orang lain di sekitarnya. Sebaliknya, kemiskinan Lazarus tidak otomatis menjamin kebahagiaan, tapi mencerminkan sikap percaya dan bergantung penuh pada Allah, disertai usaha yang sungguh-sungguh untuk selalu berharap kepada Allah. Jadi, hidup yang benar itu bukan diukur dari harta, melainkan dari kepedulian, kasih, dan ketergantungan pada Allah.
Fr. Felix Joseph, CSE
Kamis, 05 Maret 2026
Yer 17: 5-10 Mzm 1: 1-4.6 Luk 16: 19-31
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

