Refleksi Filosofis:Hanya Seujung Kuku Hitam

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika Anda merasa, bahwa hidup ini hanyalah seujung kuku hitam, tapi bagi Tuhan, seujung kuku hitam itulah yang paling berharga”
(Suara Sang Kebenaran)
“Kini ada sejenis penyakit kronis yang menyerang umat manusia, yakni selalu merasa, bahwa dirinya yang paling besar”
- Semua Kebanggaan Kita, Hanyalah Seujung Kuku Hitam
“Kabeh sing kok gummunggungke, kuwi mung sak puculaing kuku ireng,” (Semua yang Anda banggakan itu, hanya seujung kuku hitam), demikian sebuah ungkapan Jawa.
Mari Kita Refleksikan!
- Rumah yang kini Anda banggakan, hanyalah seujung kuku hitam, jika dibandingkan luasnya semesta raya ini.
- Jabatan, gelar, dan kesohoran Anda pun hanyalah seujung kuku hitam, jika dibandingkan dengan jutaan manusia yang hidup dan mati yang tanpa pernah mengenal kita.
- Ilmu yang kita rasakan sebagai segalanya, ternyata hanyalah seujung kuku hitam, jika dibandingkan dengan misteri Tuhan.
Jadi, Anda pun saya, sesungguhnya hanya memiliki seember air, dan bukan seluruh samudra. Hal itu berarti, bahwa Anda pun hanyalah seujung kuku hitam.
Pernahkah Anda menjumpai orang yang sangat mudah tersinggung, ya, karena dia mengira, bahwa seujung kuku hitam itu adalah seluruh dunia.
Pribadi yang sungguh sadar, bahwa dirinya itu hanyalah seujung kuku hitam, maka dia akan selalu sadar diri.
- Justru di Seujung Kuku Hitam itulah Tuhan Bekerja
Inilah sebuah paradoks yang sangat indah!
Jika Anda merasa hidup ini hanyalah seujung kuku hitam, kecil dan remeh, tapi bagi Tuhan, seujung kuku hitam itulah yang paling berharga.
Lihatlah!
Bukankah Tuhan tidak memiliki sebuah istana untuk lahir? Tapi Ia justru memilih sebuah palungan kecil yang hanya seujung kuku hitam di peta Kekaisaran Romawi?
Juga Tuhan tidak mengukir firman-Nya di langit dengan bintang-bintang cemerlang. Ia bahkan menulisnya di dalam hati manusia yang dina papa ini.
Ingatlah di saat Ia menyelamatkan dunia, Ia tidak menggunakan kekuatan dasyat, tapi justru dengan tetesan darah dari luka-luka-Nya, yang hanya seujung kuku hitam itu.
Maka, jangan Anda meremehkan hidup yang memang kecil ini. Bukankah tangan yang berdarah, sepotong doa pendek, maaf yang diucapkan, sedekah receh di mata dunia, itu pun hanyalah seujung kuku hitam.
Di mata Tuhan itu adalah benih yang sanggup menyelamatkan dunia.
- Berani Menjadi Kecil, Supaya Tuhan Menjadi Besar
Hand phone (HP), telah mengajarimu: buatlah dirimu agar Anda terlihat besar, viral, dan paling hebat.
Filasafat seujung kuku hitam itu justru mengajarkan, bahwa “beranilah untuk menjadi kecil!”
(Ya, jadilah kecil, agar Tuhan terlihat lebih besar).
Kediri, 31 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.