Refleksi Filosofis:Bejana Kebenaran

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Harta ini kami punya dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa keselamatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami sendiri.”
(2 Korintus 4: 7)
Filosofi Bejana: Kekuatan dari Kekosongan
Apakah Bejana itu? Jika Anda sungguh mau merefleksikan tentang makna dari sebuah ‘bejana’ janganlah Anda selalu mau melihat apa isinya, tapi sejatinya lihatlah ‘kekosongan’ dari bejana itu.
Bukankah, bahwa sebuah bejana yang selalu terisi penuh dengan: bebatuan, sampah, bahkan ego, tentu saja bejana itu sudah tidak bisa diisi lagi.
Sejatinya sebuah kebenaran hanya mau tinggal di dalam bejana yang kosong, rendah hati, dan bahkan dia akan berani mengakui, bahwa dirinya memang tidak punya apa-apa.
Mari, cermatilah tuturan sang Arifin berikut ini, “Kita membentuk tanah liat menjadi bejana, tapi ingatlah, kekosongan di dalamnya yang membuat bejana itu berguna.”
(Filsuf Lao Tzu).
Sesosok pribadi yang bermartabat dan mulia adalah ibarat bejana yang kosong, dalam konteks ia suci. Ya, ia kosong dari berbagai tuntutan apa pun, juga dari gengsi dan keinginan untuk dipuji. Ia bahkan haram untuk berkata, “Aku sudah berkorban banyak untuk kalian.”
Hanya sebuah wadah yang kosonglah yang akan Tuhan isi dengan kebenaran.
- Kebenaran: Bukan Kata-kata, tapi Air Hidup
“Emet,” (Ibrani) berarti kesetiaan, keandalan, sesuatu yang bisa diinjak, tapi ia pun tidak goyah.
Ya, sebuah kebenaran memang selalu ada di dalam sebuah bejana:
- Kebenaran itu ada di dalam sebuah tuturan tulusnya, agar sesamanya tidak terluka hatinya.
- Kebenaran itu ditakar lewat sikap hidupnya, agar sesamanya nyaman berada di sampingnya.
- Kebenaran itu ada di dalam lubuk jiwanya yang cermat berpikir, agar ia tidak membalas fitnah dari sesamanya.
Jadi sungguh berbeda di antara sebuah Bejana Kebenaran dan Gudang Pengetahuan.
Di dalam sebuah gudang pengetahuan akan penuh dengan buku yang benar, tapi tidak seorang yang mau meminumnya.
Sang Arifin sejati itu bukanlah sebagai sebuah gudang, melainkan dia itu adalah sebuah bejana, karena kita pun dapat meminum dari dalamnya.
- Bejana yang Retak
Inilah sebuah bejana yang paling spiritual. Karena bukankah Arifin sejati adalah ‘bejana nan retak’ itu?
Dia sungguh sadar, bahwa dirinya sangat terbatas. Dia bukanlah orang hebat, mulia, dan saleh, melainkan hanyalah sebutir debu tanah.
Seperti ucapan Paulus, “Harta ini kami punya dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami sendiri.
(2 Korribtus 4: 7).
Camkan! Bukankah dari bejana nan retak itu, maka air rahmat akan merembes keluar? Untuk itu, hendaklah Anda tidak terjebak pada sebuah bejana yang tampak sempurna dan mulus.
Kediri, 16 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.