Refleksi Filosofis:
Jangan Menanam Duri di Jalan Orang Lain

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Tuhan, Empunya alam semesta ini, tak pernah menanam duri.”
(Suara Sang Kebenaran)

  1. Kita Semua Bertemu di Jalan yang Sama

“Ojo nggawe rekasa liyan, yen ora gelem direkasa.” Jangan membuat susah orang lain, jika Anda sendiri tak mau disusahkan.
(Filosofi Jawa).

Mengapa demikian? Ya, hal ini adalah kesadaran, bahwa jalan itu tidak kita bangun sendiri. Jadi, hidup ini adalah jalan setapak di tengah belukar yang dilewati semua orang.

Bukankah di pagi hari para petani melintasi jalan setapak itu? Nah, demikian pun anak-anak sekolah. Di sore hari para Ibu akan beramai-ramai melintasinya. Ya, ingatlah, bahwa kita ini telah melintasi jalan yang sama.

Maka, kala Anda menanam duri di jalan setapak itu, berupa: sebuah gosip kecil, lontaran fitnah lewat grup WA, sebuah umpatan di kolom komentar, sebuah janji palsu atau pun utang yang lupa dilunasi dan Anda pun berpikir, “Ah, duri itu hanya untuk dia, musuh bebuyutanku.” Padahal tidaklah demikian. Duri itu kan ditanam di jalan umum.

Jangan-jangan, besok cucu tersayang Anda sendiri yang pertama menderita tertusuk duri itu.

Jika terjadi demikian, itulah hukum rohani yang paling adil: duri yang Anda tanam demi mencelakakan orang lain, justru tertancap lebih dulu di kaki Anda sendiri.

  1. Duri yang Paling Tajam Tidak Terlihat

Anda mungkin menduga, bahwa duri itu adalah kejahatan besar: korupsi, membunuh, dan mencuri itu sebagai duri besar.

Padahal, duri yang paling banyak melukai kaki orang lain di zaman ini adalah duri-duri kecil yang telah kita tanam tanpa sadar:

  • Duri Kata: sebuah kata paling sinis: “Percuma, karena kamu pasti tidak bisa.” Kata-kata ini terdengar kecil, tapi bisa menancap di hati seorang anak selama hidupnya. Ia justru telah berjalan pincang, karena ucapan Anda.
  • Duri Sikap: ketika di grup lingkungan tertulis, “Mari kita ulurkan tangan demi membantu yatim.” Tapi, Anda justru berpura-pura tidak melihatnya.
  • Duri Catatan Harian yang Kusut: kala hati Anda mulai kusut, maka catatan Anda isinya: benci, iri, dan dendam. Di saat itu siapa pun yang bertemu Anda akan tertusuk. Bahkan banyak orang di dekat Anda pun akan merasa tidak nyaman.

Ingatlah, bahwa Tuhan, Empunya alam semesta ini tidak pernah menanam duri. Tuhan hanya membuka Taman Eden. Tuhan tidak pernah membalas perbuatan biadab Anda, malah kepala Putera-Nya sendiri yang akhirnya, tertusuk duri.

  1. Jadilah Penabur Bunga di Jalan yang Sama

Jika demikian, maka telah terjadi pertobatan hari ini.
Ya, hanya lewat satu laku: “Jika hari ini Anda harus menaruh sesuatu di jalan orang lain, taruhlah bunga, dan jangan duri.

Semoga status WA Anda di penuhi oleh tulisan yang menguatkan.

Ingatlah Amanat Agung Leluhur Kita!

“Urip iku urup.” Hidup itu menyala laksana obor yang dibawa menyusuri jalan setapak yang gelap.

Jika Anda tidak mampu mencabut semua duri, maka setidaknya jagalah agar tangan kita tidak lahirkan duri.

Semoga di jalan pulang kita nanti, di setapak nan sunyi itu, justru dihiasi oleh kembang aneka warna.

Kediri, 30 Oktober 2026