Menarik Garis Batas

Seorang mahasiswi harus berpisah dari keluarganya, karena mengikuti kuliah di kota. Ia hidup di kos dan mengurus dirinya sendiri. Semua pesan orang tuanya disimpulkan dalam dua hal ini, yaitu kuliah dengan tekun hingga selesai dan hindari perbuatan melawan norma-norma atau aturan, baik agama maupun kehidupan bernegara. Ia diwajibkan membuat garis batas terhadap yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Garis itu jelas dan harus dipatuhi.
Kontroversi perkataan dan tindakan Yesus bagi para musuh-Nya, orang Farisi, ahli Taurat dan para penguasa terang-benderang menciptakan pemisahan. Ada satu garis batas yang membedakan Dia dari mereka. Sebagai hasilnya, kita semua pengikut-Nya menerima dan menjalani garis batas ini. Untuk zaman sekarang ini, para lawan Kristus itu dapat disejajarkan dengan para koruptor, penjahat, kaum ekstremis, pengkhianat dan pelaku aneka jenis kejahatan.
Sebenarnya sikap radikal Tuhan Yesus merupakan suatu revolusi kebaikan dan kebenaran untuk melawan semua arus kegelapan dan kematian di dunia ini. Ia rela mati demi tegaknya Kerajaan Allah yang terus berdiri tegak sampai sekarang. Garis batas itu merupakan suatu strategi dalam pematangan diri dan pertumbuhan iman kita, yang harus dipandang sebagai suatu disiplin hidup pengikut Kristus. Kalau kita melanggar disiplin berarti kita siap untuk dihukum.
Pembatasan itu menguatkan komitmen pilihan kita untuk setia kepada Kristus. Pilihan kita paling mendasar ialah sebagai orang Kristen yang ditandai dengan pembaptisan. Pilihan yang lebih spesial ialah profesi keluarga, hidup bakti dan kerja. Yesus Kristus adalah Guru utama, Pemimpin dan model kita dalam menghidupi profesi apa pun. Pilihan yang lebih khusus lagi ialah hidup misioner untuk membawa Kristus dan memperkenalkan-Nya ke seluruh dunia.
Pembatasan itu juga menjelaskan identitas kita sebagai pengikut Kristus, meskipun berbeda suku, ras, budaya atau pilihan politik. Bahkan seperti Santo Paulus, penonjolan identitas ini diperkuat oleh pembenaran, bahwa kita memilih yang terbaik, yang menjadikan kita suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus. Identitas ini harus kita pertahankan dan perkuat di setiap waktu dan tempat hidup kita, meski kita harus hidup bersama dengan sekian banyak pihak yang berlawanan dengan kita.
Pembatasan itu jangan dianggap remeh, tapi jangan juga menjadi alasan untuk memaksakan kehendak kita bahkan menjadi suatu fanatisme. Radikalisme atau fanatisme harus dilawan, karena sebagai perbuatan melawan Kristus sendiri.
“Ya, Bapa yang baik, berikanlah kami iman dan cinta yang bersemangat supaya dapat kami bagikan kepada sesama sebagai karunia istimewa dari-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.