Kemanusiaan

Ada peraturan di sekolah, bahwa “setiap pagi para siswa harus masuk kelas pukul 07.00.” Dalam perjalanan menuju sekolah, seorang siswa melihat ada orang tertabrak motor dan tergeletak di jalan, padahal saat itu sudah pukul 06.45. Jalanan sepi, karena masih pagi, sehingga tidak ada yang kunjung menolong orang yang tertabrak itu. Sedang penabraknya langsung melarikan diri.

Dalam kasus khusus seperti ini, seharusnya kemanusiaan atau kebaikan hati kepada sesama mengalahkan segala peraturan. Siswa itu dibenarkan melanggar peraturan sekolah untuk datang terlambat demi menolong orang yang terkena musibah kecelakaan.

Dalam Injil, Yesus menyembuhkan orang yang menderita sakit busung air. Mungkin Yesus merasa kasihan kepada orang yang menderita busung air ini, karena mengetahui betul, bahwa penderitanya memang akan mengalami banyak kesulitan hidup: sesak atau sulit bernapas, perut kembung, sehingga membebani gerakan, kaki membengkak, organ hati mengalami kerusakan, dan lain-lain.

Karena belas kasih-Nya yang teramat besar, Yesus menyembuhkan orang ini. Sampai di sini tidak ada masalah. Dia justru berbuat baik. Masalahnya, Yesus melakukan penyembuhan itu pada hari Sabat. Dalam tradisi atau peraturan adat bangsa Yahudi, orang dilarang bekerja pada hari Sabat, termasuk tidak boleh menyembuhkan orang sakit.

Yesus, dalam artian tertentu, melanggar peraturan itu. Meski melanggar aturan, bukan berarti Yesus adalah orang jahat. Ia melanggar aturan semata-mata, karena bagi-Nya ada sesuatu yang terpenting, yakni berbuat baik kepada manusia yang memang sangat memerlukan bantuan-Nya saat itu.

Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang disiplin dan taat aturan, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Tuhan, semoga kami menganggap sesama kami manusia lebih berharga daripada segala sesuatu. Semoga kami tidak menerapkan hukum dan peraturan secara kaku hingga membebani orang lain. Amin.

Ziarah Batin