Jadi Pewarta yang Tidak Terlihat

Seorang filsuf bernama Friedrich Nietzsche pernah menulis: “Ke mana pun aku pergi, selalu mengikuti seekor anjing yang bernama ego.”

Dalam zaman digital ini, media sosial bisa memberi ‘makan’ pada ego, karena menyediakan panggung bagi seorang narsis untuk merasa diperhatikan oleh seluruh dunia. Media sosial bisa memerosotkan sikap reflektif, karena yang ditampilkan adalah yang spektakuler dan kontroversial. Dalam konteks Kristiani, sikap reflektif berarti menghadirkan Tuhan dalam peristiwa hidup kita.

Kita merayakan Pesta Santo Markus, penulis Injil. Markus adalah seorang pengikut Tuhan yang beriman teguh dan menaruh perhatian pada ajaran dan karya Yesus. Menariknya, Markus tergolong “the unseen follower,” pengikut Yesus yang ‘tidak terlihat’ banyak orang. Dalam diam, ia mengikuti Yesus, merefleksikan, dan memberikan kesaksian lewat Injil yang ditulisnya.

Jadi pewarta Sabda Tuhan itu bukan pertama-tama mewartakan diri sendiri atau mendapat banyak ‘suka’, melainkan mengupayakan penyebaran Kerajaan Allah lewat karya-karya kecil dan konkret.

“Ya, Tuhan, berkaryalah bersama kami dalam mewartakan Injil-Mu melalui kata-kata dan sikap hidup kami. Amin.”

Ziarah Batin