Refleksi Filosofis:Jangan Lupa Belajar untuk Mati

Fr. M. Christoforus, BHK

“Filsafat yang sejati adalah latihan untuk mati”
(Filsuf Socrates)

Ada ‘keanehan’, bahkan sangat aneh dalam tata cara atau pun sistem dalam sekolah-sekolah kita.

Mengapa demikian? Ya:

  • Karena bukankah kita telah tekun belajar untuk mencari uang, tapi kita lupa belajar cara kehilangan uang.
  • Kita telah getol belajar untuk mendapatkan setitik kedipan api cinta, tapi kita lupa belajar cara kehilangan cinta.
  • Kita telah belajar cara menyalakan mesin, tapi kita lupa belajar cara mematikan mesin.

Juga hal yang lebih aneh lagi, kita telah sudi belajar selama 12,16, dan bahkan hingga 20 tahun bagaimana cara hidup, tapi kita tidak pernah meluangkan waktu satu semester untuk belajar cara mati. Padahal ‘mati’ adalah sebuah ujung akhir yang paling pasti yang akan kita hadapi, tanpa bisa menolaknya.

Janganlah heran, jika banyak orang hidup, tapi gagal mati. “Barang siapa yang pernah dilahirkan di atas bumi ini, ia pasti akan menerima sebuah kepastian yang paling mengerikan ialah kematian.” Nah, demikian pandangan para filsuf.

  1. Mengapa Kita Takut Belajar Mati?

Ya, hal itu bukan karena peristiwa kematian itu memang menakutkan, melainkan karena kematian itu memang jujur.

Hidup di bumi ini bisa dibohongi, kita bisa berpura-pura kaya, pura-pura bahagia, bahkan berpura-pura suci. (Lihatlah di media instagram, semua orang bisa terlihat nyaris sempurna hidupnya). Di sisi lain hal itu ternyata hanyalah permainan topeng di wajah manusia.

Justru hal itulah yang paling ditakuti oleh manusia. “Manusia modern hidup dalam keadaan ‘seinsvergessenheit’, ‘lupa akan keberadaan.’ Ia tampak sibuk setiap hari dan seolah-olah ia akan hidup selamanya. Ia telah menumpuk harta, tak rela meminta maaf, menunda untuk mengampuni, dan bahkan menunda untuk berdoa.

Mengapa demikian? Hal itu terjadi, karena ia diam-diam berpikir, “Ah, nanti saja, kan masih ada, waktu.”

‘Belajar untuk mati’ adalah obat untuk penyakit ‘nanti saja’ (Eling lan waspada), dalam Bahasa Jawa. Ingatlah! Kita berasal dari mana dan akan kembali ke mana? (Sungkan Paraning Dumadi).

Jadi, ‘Eling’ itu adalah belajar untuk mati. Sedangkan ‘Waspada’ itu adalah belajar untuk hidup (Nah, keduanya itu sungguh tak dapat dipisahkan).

Bukti bahwa manusia itu ‘lupa belajar untuk mati’, yakni kala hidupnya tidak waspada, sembrono, dan bahkan ia ibarat ‘pagar yang memakan tanaman.’

  1. Apa yang Kita Pelajari, ketika Belajar Mati?

Ingatlah, bahwa ‘konsep belajar mati’ itu bukannya berarti kita belajar untuk menjadi mayat. Bukan.

Ada tiga pelajaran besar yang hanya bisa dipelajari, jika kita berani menatap kematian

  • Pelajaran Pertama: Belajar Membedakan Mana yang akan Dibawa, Mana yang akan Ditinggal

Hai, bila malam ini Anda diminta segera pindah kos untuk selamanya, dan Anda hanya dibolehkan memboyong sebuah tas tangan yang kecil?

Nah, barang apakah yang akan Anda masukkan ke dalam tas kecil itu? Renungkan!

  • Apakah Anda, akan memasukkan sehelai sertifikat tanah? Atau sepeda motor kesayangan? Ataukah setumpuk pujian murahan? Ataukah dendam kesumat? Kata-kata kasar dan kotor? Ataukah catatan harian? Tidak. Semuanya itu tidak bisa dimuat di dalam wadah yang sekecil itu. Apalagi, jika semua barang bawaan itu, ternyata tidak berguna di tempat barumu.

Tapi yang bisa Anda masukkan adalah: Segepok cinta tulus yang pernah Anda persembahkan, secuil ampunan yang telah Anda ikhlaskan, sepotong doa, serta luka yang telah Anda serahkan kepada Tuhan?

“Kematian itu adalah filter yang paling jujur ia mampu menyaring, semua sampah. Ternyata selama ini banyak yang kita kira sebagai harta, ternyata itu hanyalah sampah di hadapan kematian.

Ketahuilah, bahwa orang yang tidak pernah belajar mati, maka ia akan habiskan dalam hidupnya dengan menumpuk sampah.

  • Pelajaran Kedua: Belajar Hidup Lebih Pelan dan Lebih Dalam

Mari Cermatilah Perilaku Kita!

  • Seorang Remaja ingusan yang serba tergesa-gesa. Ia merasa, bahwa hidupnya toh masih lama, maka ia pun hidup berfoya-foya.
  • Sedang seorang Kakek yang sisa hidupnya bisa dihitung dengan jemari, tentu akan menghiruf aroma secangkir kopi dengan rasa syukur. Aroma kopi itu adalah berkat baginya.

“Filsafat yang sejati adalah latihan untuk mati,” demikian filsuf Socrates.

Adapun maknanya bukan supaya kita ingin cepat mati, tapi supaya setiap hari hidup ini seolah-olah adalah hari yang berarti (Tidak diisi dengan gosip dan umpatan).

  • Pelajaran Ketiga: Belajar, bahwa Mati Bukan Titik, tapi Koma

Ya, mati itu adalah sebuah pintu. Mati itu bukanlah ibarat tembok penghalang raksasa.

Kristus ternyata tidak menghapus kematian. Ia malah masuk ke dalamnya. Ia mempelajarinya. Ia pun mati. Ia pun bangkit. Sehingga bagi kita, belajar mati sekarang berarti belajar bersama Sang Guru yang sudah terbukti lulus dari kematian.

  1. Praktik Kecil: Sekolah Mati 5 Menit

Model sekolah singkat ini, sangat sederhana dan tidak seram. Anda pun bisa lakukan di malam ini juga!

Itulah yang dinamakan ‘Examen Maut’ ‘Ujian Maut’

Jadi, sebelum tidur malam ini, pejamkan mata selama 5 menit dan tanyakan 3 buah pertanyaan ini!

  • Jika malam ini adalah malam terakhir saya, apakah saya sudah berdamai?
  • Jika malam ini adalah malam terakhir saya, apakah saya sudah mencintai?
  • Jika malam ini adalah malam terakhir saya, apakah saya siap untuk bertemu dengan Tuhan?

Jika ternyata jawabannya ‘belum’, bersyukurlah. Karena hal itu berarti, Tuhan masih memberi Anda (waktu), besok pagi untuk memperbaikinya. Itulah yang disebut ‘anugerah.’

Akhirnya, ‘hanya satu lagi yang tersisa!’

“Apakah Anda sudah belajar mencintai dengan benar sebelum waktumu habis?”

Nah, itulah satu-satunya ‘ijazah’ yang akan ditanya di pintu langit.

Kediri, 27 Oktober 2026