Antara Dua Mata Pedang

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK


Musuh bebuyutmu
ganas membabatmu

Namun sang kuasa kasih memohonmu
sarungkan mata pedang balasan

Mata pedang kuasa berlumur tetesan darah

Namun
mata pedang kasih
rela membalut luka berdarah

Oh, Gusti Maha Suci
pahami kami akan nilai keagungan
secarik bahasa kasih

(Pada Sepotong Catatan)

| Red-Joss.com | Hari ini, kita diajak untuk mengingat kembali amanat Sang Guru Agung kita agar ‘tidak membalas dendam!’

“Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata, dan gigi ganti gigi. Tapi Aku berkata kepadamu, janganlah kamu membalas yang jahat dengan yang jahat. Melainkan, ampunilah!”

“Barang siapa, menampar pipi kirimu, serahkan juga, pipi kananmu.”
“Barang siapa, meminta bajumu, serahkan juga jubahmu.”
“Barang siapa, memintamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah sejauh dua mil.”

Bahkan, sabda-Nya, “Ampunilah, sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali!” Siapa yang sanggup melakukan prinsip itu?

Kepada kita telah diajarkan agar tidak sekadar menerapkan kebaikan; tapi melakukan, ‘hukum kasih.’ Berbuat dan bertindak penuh kasih, sebagai hukum kekal.

Bagaimana dengan praktik riil hidup kita? Hidup di tengah amukan dunia ganas menantang. Realitas hidup yang diwarnai sikap intoleran diskriminatif. Bagaimana pula sikap kita di tengah badai kebohongan dan kemunafikan itu?

Kita diajarkan dan diajak untuk tidak menerapkan hukum rimba, yang erat bersekutu dengan ‘mata pedang kuasa.’ Tapi, kenakanlah hukum kasih, yang erat bersekutu dengan ‘mata pedang kasih.’

Selalu ingatlah akan amanat agung lewat karya Plautus yang berjudul Asinaria, dan ditegaskan pula oleh Thomas Hobbes, bukan โ€˜Homo Homini Lupusโ€™, melainkan โ€˜Homo Homini Sociusโ€™. “Bukan Manusia menjadi serigala bagi sesama, melainkan manusia menjadi sesama bagi sesama.”

Kediri, 25 Juni 2023