Setia Mengasihi dan Melayani Sesama

“Kita tidak menantikan Yesus dengan berpangku tangan, melainkan dengan setia mengasihi dan melayani sesama.”

Allah yang Maha Rahim,
Putra-Mu adalah Damai Sejahtera kami. Melalui salib-Nya, Ia meruntuhkan tembok pemisah antara kami dan Engkau, juga di antara kami sendiri. Ia mendekatkan kami kepada-Mu dan menjadikan kami anggota keluarga-Mu. Kami bukan lagi orang asing, melainkan umat yang sedang Engkau bangun bersama menjadi kediaman Roh-Mu.

Bapa, hati kami masih sering terpecah oleh ketakutan, kebencian, dan keegoisan. Kami merindukan damai, tapi terkadang justru membangun tembok yang hendak diruntuhkan oleh Kristus. Ampunilah kami. Ajarlah kami hidup sebagai satu keluarga yang menghadirkan damai dan kebaikan-Mu di tengah dunia.

Dalam Injil, Yesus mengajak kami untuk tetap berjaga-jaga, dengan pinggang terikat dan pelita menyala, menantikan kedatangan-Nya. Penantian ini bukanlah hidup dalam ketakutan akan masa depan, melainkan kesetiaan mengasihi-Mu, melayani sesama yang Engkau tempatkan di jalan hidup kami, dan peka terhadap bisikan Roh Kudus.

Betapa mengagumkan kasih-Mu! Tuan yang kami nantikan justru akan mengenakan pakaian pelayanan dan menyambut kami dengan melayani kami. Inilah hati kerahiman Ilahi-Mu: Tuhan yang kami layani tidak pernah berhenti mengasihi, menyembuhkan luka, dan mengantar kami pulang kepada-Mu.

Bapa, jadikanlah hatiku kediaman damai-Mu. Bantulah aku meruntuhkan tembok pemisah, menjangkau mereka yang terluka, dan melayani dengan kasih selama menantikan Putra-Mu. Semoga aku didapati setia, dengan pelita tetap menyala dan hati siap menyambut kedatangan-Nya.

Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah! Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)