Rambut Terhitung

Ibu yang baik hafal hal-hal kecil tentang anaknya. Lauk yang tidak disukai, letak tahi lalat, suara batuknya di antara batuk anak-anak lain. Tidak ada buku catatannya. Kasih itu memang membuat orang hafal detail.
Yesus berbicara kepada murid-murid yang mulai menghadapi tekanan. Beribu-ribu orang berdesakan, para lawan mengintai. Wajar kalau takut. Lalu Ia memberi perbandingan yang lembut: burung pipit dijual lima ekor dua duit, dan tidak seekor pun dilupakan Allah. “Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya.”
Terhitung. Bukan sekadar diketahui jumlahnya, tapi dianggap berharga satu per satu. Tidak ada bagian dari hidup kita yang terlalu kecil untuk luput dari perhatian-Nya. Kekhawatiran yang disimpan sendirian pun tidak lolos dari pandangan-Nya.
Kita mendengar Paulus menyebut Roh Kudus sebagai meterai dan jaminan bagian kita. Gambarnya makin hangat: kita dijaga bukan seperti barang bergaransi, melainkan seperti anak yang dihafal Ibunya.
“Jangan takut,” kata Yesus, kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. Ketakutan boleh datang, itu manusiawi. Tetapi ia tidak berhak menjadi tuan rumah di hati orang yang rambutnya saja dihitung Allah.
Bapa, Engkau menghitung apa yang tidak pernah aku hitung dari diriku sendiri. Kupercayakan hari ini kepada-Mu. Amin.
(Doa Katolik – KAS – Jumat, 16 Oktober 2026)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.