Keresahan ini agar Cepat Berlalu

Resah merupakan satu keadaan jiwa yang mirip situasinya dengan gelisah, cemas, tidak nyaman, takut dan khawatir. Jelas, keadaan jiwa ini tidak positif. Keresahan adalah lawan dari rasa semangat, optimis, senang, bangga, ceria dan beruntung. Pada dasarnya kita ingin agar keresahan dalam diri sendiri, keluarga, Gereja, dan masyarakat itu cepat berlalu pergi.
Mungkin banyak di antara kita, ketika membaca bagian awal Kitab Pengkhotbah tentang kesia-siaan dalam segala sesuatu, perasaan takut dan resah itu timbul secara spontan. Seorang siswa SMA, setelah membaca perikop ini langsung mengeluh kepada orangtuanya, begini: “Lha, terus untuk apa kita hidup di dunia ini?”
Raja Herodes juga resah, karena mengetahui, bahwa Yohanes Pembaptis yang telah ia bunuh itu hidup kembali. Ia menjadi resah dan gelisah, serta mengira Yesus dari Nazaret itu ialah Yohanes Pembaptis yang bangkit.
Dua contoh keresahan itu bersumber pada kesalahan atau dosa yang tumbuh melalui suatu pengetahuan dan kesadaran akan diri sendiri. Seseorang mengetahui sendiri kelemahan dan dosanya dengan bantuan terang Ilahi, dan menyesalinya, kemudian ada jalan baginya untuk pembaruan. Langkah pembaruan itu sedapat mungkin tidak hanya menghilangkan keresahan, tapi juga menciptakan atau menghadirkan sesuatu yang baru.
Dari Kitab Pengkhotbah itu akan semakin memperkuat iman kita kepada Tuhan, atau Herodes memang dituntut untuk melihat Yesus yang sesungguhnya.
Ada jenis keresahan lain yang lebih berat. Keresahan itu ialah, ketika teman dan saudara menjadi resah karena kelemahan, kekurangan dan perbuatan dosa kita. Mereka resah, tapi kita tidak menyadari atau mengetahuinya. Dengan kata lain, kita tidak peduli dan tetap sengaja berbuat kesalahan dan dosa. Yang lebih berbahaya lagi, jika kesengajaan itu membahayakan jiwa sendiri, orang lain, dan merusak hajat hidup orang banyak.
Keresahan-keresahan itu dapat cepat berlalu pergi, jika setiap orang hidup secara adil, benar, dan setia mengikuti Tuhan untuk dibimbing oleh firman-Nya. Hidup berkenan bagi Tuhan. Kita tidak hanya ingin mengetahui tentang Yesus seperti Herodes, tapi mengikuti Dia, yaitu melakukan kehendak Bapa di Surga.
“Allah Bapa di Surga, dengan selalu meneladani Yesus Kristus Putra-Mu, kami ingin mengosongkan diri ini agar dipenuhi belas kasih-Mu, ya, Bapa yang Maha Baik. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.