Jujur Terhadap Diri Sendiri

Seorang pemudi mengenal banyak pria, yang akan dipilihnya untuk menjadi tunangan dan suaminya. Tapi ia selalu gagal, ketika baru tahap pendekatan. Ia berdoa tekun supaya cepat menetapkan hati kepada pria pujaan hatinya. Ia sering bertanya kepada orang dewasa demi mendapatkan arahan yang tepat tentang memilih pasangan yang cocok. Tapi hasil yang baik dan pasti itu belum berpihak kepadanya.

Ia lalu memutuskan untuk pergi ke seorang pintar agar mendapatkan petunjuk. Setelah melewati beberapa tes, orang pintar itu menyimpulkan dan berkata kepadanya, begini: “Kamu harus memenuhi syarat 3 B.” Pemudi itu langsung menanggapi dengan antusias, “Apa itu 3 B?”

“Tiga B itu ialah Berharap, Berusaha, dan Bercermin.”

Pemudi itu sadar, bahwa ia harus jujur terhadap diri sendiri, tentang keadaannya yang sesungguhnya.

Santo Paulus mencatat sebuah pengakuan jujur akan dirinya dan semua orang yang dikaruniai iman kepada Yesus Kristus. Kejujuran itu ialah harga diri kita yang dilahirkan dari wanita merdeka. Ini sangat terkait dengan bagian kita dari Abraham dan warisan Yerusalem surgawi. Kita adalah pengikut Kristus yang benar, karena pembaptisan. Kita harus mengakuinya dengan jujur dalam kata dan perbuatan kita.

Paulus pasti tidak mengarang dengan kejujuran atas diri sendiri, karena sesungguhnya ia meniru Yesus Kristus, Guru Sejati. Banyak sekali contoh kejujuran Yesus atas diri-Nya yang ditunjuk di dalam Kitab Suci. Salah satunya ialah yang kita dengar kesaksian-Nya dalam Injil. Ia menegaskan, bahwa tidak perlu tanda-tanda lagi, tapi kehadiran atau sosok diri-Nya sudah nyata. Kalau Yunus dan Salomo masih perlu tanda untuk membuat orang-orang percaya, Yesus yang melebihi kedua orang itu bukan lagi sebagai tanda, tapi pribadi sebenarnya yang dilambangkan oleh tanda-tanda itu.

Di dalam kenyataan hidup kita, kejujuran terhadap diri sendiri itu sering sulit untuk direalisasikan. Salah satu alasannya ialah, karena kita tidak rela kekurangan kita diketahui orang lain. Kita ingin selalu indah dan bagus di hadapan orang lain. Kita ingin supaya kekurangan atau kesalahan kita tersembunyi rapat-rapat. Mungkin orang suka berkata begini: semuanya hanya saya dan Tuhan yang tahu. Pokonya saya harus tetap aman dan lancar dengan orang lain.

Tuhan yang Maha Tahu itu pada saat yang tepat akan membuka yang tersembunyi itu ke permukaan.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, biarlah kami selalu malu hati, jika tidak jujur kepada diri sendiri. Jadikanlah kami jujur seperti diri-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)